Karhutla Sumsel Masih Membara, 1.669 Titik Panas Terdeteksi dan 29.969 Warga Kena ISPA

Penulis: Syaiful Bahri  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:47:01 WIB
Karhutla di Sumsel masih berlangsung dengan 1.669 titik panas terdeteksi.

PALEMBANG — Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi wilayah paling parah terdampak dengan 1.027 titik panas. Dua kabupaten lain menyusul dengan jumlah signifikan, yakni Musi Banyuasin sebanyak 175 titik dan Banyuasin 142 titik.

Sebaran titik api yang terus bertambah membuat kualitas udara di sejumlah daerah turun drastis. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 300 mikrogram per meter kubik, sementara Kota Palembang berada di angka 284 mikrogram per meter kubik.

Dampak Kesehatan: 10 Ribu Kasus ISPA per Pekan

Lonjakan kasus ISPA menjadi dampak paling langsung dari paparan kabut asap yang berlangsung sejak Agustus hingga September 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Ira Primadesa, mengungkapkan tingginya angka penderita dalam periode singkat.

"Selama tiga pekan ini sebanyak 29.969 kasus ISPA di Sumsel. Tercatat ada 10 ribu kasus setiap pekan."

Partikel halus PM2.5 yang terhirup dapat masuk hingga ke sistem pernapasan dan memicu berbagai keluhan. Mulai dari batuk, sesak napas, hingga iritasi mata yang dialami warga di wilayah terdampak.

12.285 Personel Dikerahkan, Rp 100 Miliar Digelontorkan

Pemerintah merespons dengan mengerahkan 12.285 personel gabungan untuk mempercepat pemadaman di berbagai titik. Dukungan anggaran juga mengalir melalui Bantuan Presiden sebesar Rp 100 miliar untuk penanganan karhutla di Sumsel.

Meski demikian, luas wilayah yang terbakar dan kemunculan titik api baru yang terus berulang membuat penanganan belum sepenuhnya tuntas. Kombinasi cuaca ekstrem dan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar disebut sebagai pemicu utama.

Jarak Pandang di Bawah 500 Meter, Warga Kurangi Aktivitas

Survei terhadap puluhan warga terdampak menunjukkan kabut asap telah masuk kategori parah. Jarak pandang dilaporkan kurang dari 500 meter di sejumlah lokasi sehingga mengganggu aktivitas harian.

Mayoritas responden menyebut praktik pembakaran lahan sebagai penyebab utama karhutla. Sebagian besar warga memilih memakai masker dan mengurangi kegiatan di luar rumah untuk menghindari paparan asap.

Keberadaan kelompok Masyarakat Peduli Api yang seharusnya menjadi garda terdepan pencegahan justru belum banyak diketahui warga. Kondisi ini menunjukkan sosialisasi dan keterlibatan komunitas dalam pengendalian karhutla masih perlu diperkuat.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: jurnalpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top