SUMATERA SELATAN — Rupiah berpeluang menguat tipis di pasar spot setelah harga minyak dunia turun menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan ke Iran. Meski begitu, ruang penguatan dibatasi oleh beban domestik yang masih membayangi. Di pasar NDF, rupiah justru tercatat melemah terbatas 0,03% ke Rp17.940 per dolar AS.
Melansir data Bloomberg Jumat (9/10/2026), harga minyak Brent terpangkas 0,4% menjadi US$103,86 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,16% ke US$91 per barel. Penurunan harga energi ini turut diikuti indeks dolar AS yang menyusut 0,02% ke 102,12.
Meredanya tekanan harga minyak membawa sebagian mata uang Asia bergerak ke zona hijau, kendati penguatannya relatif terbatas. Baht Thailand dan won Korea Selatan masing-masing menguat 0,08%. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat 0,07% dan 0,02%. Sebaliknya, yen Jepang pagi ini justru tergerus 0,13%.
Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah mulanya dibuka stagnan di level Rp17.935 per dolar AS. Pada 07.30 WIB, rupiah bergerak melemah terbatas 0,03% ke Rp17.940 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski sentimen eksternal membaik, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Pasar masih mencermati perkembangan dari dalam negeri yang berpotensi menahan laju penguatan.
Penurunan harga minyak menjadi katalis positif bagi mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia. Dengan harga minyak yang lebih rendah, beban impor energi berkurang sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa ikut mereda.
Indeks dolar AS yang melemah tipis ke 102,12 juga memberi ruang bagi mata uang emerging market untuk menguat. Namun, pelemahan indeks dolar kali ini tergolong sangat kecil sehingga dampaknya ke rupiah pun terbatas.
Ruang penguatan bagi mata uang Asia hari ini sebagian ditopang oleh meredanya tekanan di pasar obligasi global. Kondisi ini membuat aliran dana asing ke aset berdenominasi lokal berpotensi kembali masuk, meski dengan volume yang belum signifikan.
Di sisi lain, pelaku pasar masih menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta perkembangan inflasi dalam negeri. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung wait and see sehingga penguatan rupiah sulit berlanjut signifikan.
Kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor dan musim dividen juga menjadi faktor yang menahan rupiah. Permintaan dolar AS dari korporasi domestik masih cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan pembayaran utang dan bahan baku.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang positif namun terbatas dan beban domestik yang masih ada, rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran sempit. Pelaku pasar disarankan mencermati data ekonomi yang akan dirilis pekan ini untuk mengukur arah selanjutnya.