SUMATERA SELATAN — Nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini, seiring harga minyak mentah yang bertahan tinggi dan yield obligasi pemerintah AS yang terus naik. Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sudah menembus Rp18.000/US$ setelah melemah 0,48% tadi malam. Tekanan eksternal ini diperkirakan masih membayangi pergerakan rupiah di pasar spot sepanjang sesi.
Bloomberg Technoz melaporkan bahwa harga minyak mentah Brent bertahan di level US$105 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$93 per barel. Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai kemajuan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Arab Saudi sebenarnya telah memulihkan sekitar separuh aliran minyak melalui pipa lintas negara East-West, jalur pengiriman yang tidak melewati Selat Hormuz. Aliran minyak melalui jalur tersebut mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari. Namun, risiko geopolitik akibat belum pastinya resolusi konflik AS-Iran membuat kekhawatiran gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang.
Yield US Treasury Naik ke 5,23%, Tekanan Menjalar ke Global
Tekanan terhadap rupiah di luar negeri juga dipicu oleh kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 7,6 basis poin (bps) ke level 5,23%. Kenaikan yield di pasar obligasi AS tersebut menjalar ke hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia.
Pergerakan rupiah di pasar NDF yang sudah menembus Rp18.000/US$ menjadi sinyal awal bagi pelaku pasar valas domestik. Pasar spot diperkirakan akan mengikuti arah yang sama ketika perdagangan dibuka.
Risiko Geopolitik Belum Sepenuhnya Hilang
Meskipun Arab Saudi telah berupaya memulihkan aliran minyak melalui jalur alternatif, pasar masih menanti kejelasan hasil perundingan AS-Iran. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang.
Bagi investor, pelemahan rupiah yang berlanjut dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar obligasi domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) tenor panjang. Imbal hasil SBN berpotensi ikut naik mengikuti pergerakan yield US Treasury.
Dampak ke Pasar Domestik dan Pelaku Usaha
Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000/US$ akan berdampak langsung pada pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS atau bergantung pada bahan baku impor. Sektor manufaktur dan energi menjadi yang paling rentan terhadap pelemahan nilai tukar ini.
Di sisi lain, eksportir komoditas berpotensi diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS akan bernilai lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. Namun, manfaat ini bergantung pada apakah kenaikan harga komoditas global mampu mengimbangi volatilitas nilai tukar.
Pelaku pasar akan mencermati pergerakan harga minyak dan yield US Treasury sepanjang hari ini sebagai penentu arah rupiah. Jika kedua faktor eksternal tersebut terus menguat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.