PALEMBANG — Pemantauan IQAir pada Senin (12/10/2026) pukul 08.00 WIB menempatkan Palembang di tingkat berbahaya dengan indeks 379. Angka itu melampaui ambang batas aman yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia. Stasiun pemantau di Musi 2 mencatat indeks lebih ekstrem lagi, yakni 638.
Kabut asap kiriman dari titik-titik karhutla membawa campuran polutan yang tidak ringan. Partikel halus PM 2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun ikut terhirup warga setiap hari. Senyawa-senyawa itu diketahui berkaitan erat dengan gangguan saluran pernapasan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr Then Suyanti memperingatkan bahwa paparan asap karhutla bisa memperburuk sejumlah penyakit pernapasan kronis. Kelompok yang paling rentan adalah lansia, anak-anak, dan penderita penyakit paru bawaan.
"Risiko kesehatan akibat karhutla ini kita tahu asap ini bisa memicu PM 2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan organik beracun yang bisa memperberat ISPA, PPOK, asma, dan gangguan pernapasan," ujarnya beberapa waktu lalu.
Selain saluran pernapasan, Kemenkes menyoroti risiko iritasi mata dan kulit akibat paparan kabut asap. Lansia berpotensi mengalami penyakit sistemik, sementara tumbuh kembang anak-anak terganggu karena mereka termasuk kelompok paling rentan.
Dampak buruk asap karhutla tidak berhenti di organ pernapasan. American Heart Association (AHA) mencatat paparan partikel halus dalam asap kebakaran hutan berkaitan erat dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular dan serangan jantung mendadak.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menemukan bahwa paparan asap pekat kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Lonjakan itu terjadi pada pria maupun wanita, terutama kelompok usia 35-64 tahun.
Warga Palembang pun dihadapkan pada dua ancaman sekaligus: gangguan pernapasan jangka pendek dan risiko kardiovaskular jangka panjang. Keduanya bersumber dari partikel halus yang ukurannya lebih kecil dari rambut manusia.
Data AHA menempatkan kelompok usia produktif 35-64 tahun sebagai yang paling terdampak risiko henti jantung akibat paparan asap. Kelompok ini biasanya lebih banyak beraktivitas di luar ruangan sehingga terpapar polutan lebih lama.
Bagi warga Palembang yang harus tetap beraktivitas, penggunaan masker menjadi langkah paling sederhana. Namun masker kain tidak cukup menahan partikel PM 2,5 yang ukurannya sangat kecil.
Kondisi kualitas udara Palembang yang menyentuh 638 di stasiun Musi 2 menandakan bahwa kabut asap tahun ini tergolong parah. Angka itu jauh di atas ambang batas yang direkomendasikan untuk aktivitas luar ruangan.
Pemerintah daerah belum merilis pernyataan resmi soal langkah penanganan udara kotor tersebut. Warga diimbau memantau indeks kualitas udara secara berkala dan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti kota.