PALEMBANG — Laporan sementara BNPB menyebut angka 2.800 meter itu terpantau di wilayah operasi, bukan gambaran menyeluruh kondisi Sumatera Selatan. Penyemaian dry ice diarahkan pada perubahan kestabilan atmosfer, bukan pemadaman sumber api karhutla. Informasi hasil awal disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan pada Jumat, 16 Oktober.
Operasi tahap awal memakai satu pesawat Cessna Caravan dengan nomor registrasi PK-SNP. Tercatat dua sorti penerbangan telah dilakukan, masing-masing membawa 800 kilogram bahan semai. Pesawat itu mengangkut dry ice menuju wilayah sasaran yang telah ditetapkan.
Bahan yang digunakan berbeda dari garam (natrium klorida) yang lazim dipakai dalam operasi modifikasi cuaca untuk merangsang hujan. Dry ice berbentuk powder atau butiran berukuran sekitar tiga milimeter dengan suhu sekitar minus 75 derajat Celsius.
Berton menerangkan salah satu penghambat pergerakan asap adalah lapisan inversi. Kondisi itu terjadi ketika susunan suhu udara membuat atmosfer relatif stabil, sehingga udara dekat permukaan sulit naik menembus lapisan di atasnya.
Asap karhutla pun tertahan dan terkumpul di wilayah tertentu. Ketika konsentrasi asap meningkat, jarak pandang menurun dan aktivitas masyarakat maupun transportasi ikut terganggu. Penyemaian dry ice dimaksudkan membantu melabilkan atmosfer agar asap yang terperangkap bergerak naik dan menyebar.
Metode dry ice tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan. Karena itu, penerapannya tidak harus menunggu kondisi awan yang mendukung hujan. Efektivitasnya tetap terkait keadaan atmosfer setempat dan perlu dinilai lewat pemantauan, termasuk perubahan konsentrasi asap serta jarak pandang setelah penyemaian.
Perubahan kondisi juga dipengaruhi sebaran asap dan cuaca. BNPB menegaskan metode ini merupakan upaya pendukung, bukan jaminan kabut asap langsung hilang. Perkembangan berikutnya diharapkan memberi gambaran lebih lengkap soal efektivitas operasi di Sumatera Selatan.