SUMATERA SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 3,64% ke level 4.996,61 pada perdagangan Senin (19/10), dengan seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. Di tengah tekanan itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menaikkan target marketing sales 2026 menjadi Rp2,95 triliun, naik 41,83% dari target sebelumnya Rp2,08 triliun.
Pelemahan indeks terjadi bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp2,28 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, net sell asing tercatat Rp1,72 triliun. Sektor Basic Industry menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 4,57%.
Di antara saham yang masih bertahan di zona hijau, BSIM memimpin kenaikan 24,83%, disusul AADI 2,78% dan DSSA 2,10%. Sebaliknya, BBCA terkoreksi 6,86%, BYAN turun 6,95%, dan BBRI melemah 3,79%.
Bursa Amerika Serikat bergerak beragam pada sesi yang sama. Dow Jones turun tipis 0,07% ke 51.966, sementara S&P 500 naik 0,41% ke 7.690 dan Nasdaq menguat 1,11% ke 26.430.
Bursa Efek Indonesia memutuskan mengeluarkan seluruh saham dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Keputusan diambil setelah BEI berkoordinasi dengan MSCI, dengan tujuan meningkatkan kredibilitas indeks.
Kebijakan berlaku tanpa menghapus saham HSC dari perdagangan. Saham-saham tersebut tetap dapat diperjualbelikan, hanya perubahan harganya tidak lagi berdampak pada IHSG. Bobot saham HSC saat ini sekitar 18% terhadap indeks.
Mengacu materi OJK, total kapitalisasi pasar saham HSC mencapai Rp3.076,5 triliun atau 28,8% dari total kapitalisasi pasar BEI per September 2026. Daftar HSC kini mencakup 83 saham, bertambah setelah BEI memasukkan 19 saham baru pada 12-13 Oktober 2026.
BEI juga akan mencantumkan status afiliasi dalam publikasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih. Tanggal berlaku kedua kebijakan belum diumumkan, sementara pembaruan sanksi terhadap saham HSC akan disampaikan OJK.
Permintaan lahan industri dari sektor data center mendorong DMAS menaikkan target. Hingga September 2026, perseroan telah membukukan marketing sales Rp2,61 triliun, setara 88,57% dari target baru dan 125,91% dari target awal.
Kinerja keuangan DMAS turut tumbuh pada semester I 2026. Pendapatan tercatat Rp1,80 triliun, melonjak 193,64% dari Rp613 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat 154,04% menjadi Rp1,10 triliun dari Rp433 miliar.
Ketiga emiten menyiapkan pembelian kembali saham di tengah fluktuasi pasar. Mengacu POJK No. 13/2023 dan SOJK 112/2026, aksi tersebut dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS.
Secara proforma, buyback CUAN menurunkan total aset dari US$2,65 miliar menjadi US$2,62 miliar dan ekuitas dari US$638,37 juta menjadi US$610,37 juta. Buyback BREN menurunkan aset dari US$4,04 miliar ke US$3,99 miliar dan ekuitas dari US$944,99 juta ke US$889,27 juta.
DSSA menyebut aksinya tidak akan menurunkan pendapatan dan berpotensi meningkatkan laba per saham. Ketiga perusahaan menargetkan buyback untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menambah nilai bagi pemegang saham.
Segala analisis dan rekomendasi saham bersifat informatif, bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.