SUMATERA SELATAN — Apple resmi meluncurkan iPad mini generasi terbaru dengan layar OLED 8,5 inci dan chip A20 Pro, yang diklaim sebagai pembaruan terbesar sejak lini ini diperkenalkan. Meski membawa sejumlah peningkatan, keputusan Apple mempertahankan refresh rate 60Hz menuai kritik keras dari pengguna di media sosial dan forum teknologi. Perangkat ini menyasar segmen bisnis dan pengguna yang menginginkan tablet ringkas berperforma tinggi.
Apple secara resmi memperkenalkan iPad mini anyar dengan sejumlah pembaruan signifikan. Layar OLED 8,5 inci menjadi perubahan paling menonjol, menggantikan panel LCD generasi sebelumnya, dengan opsi lapisan nano-texture untuk mengurangi pantulan cahaya.
Apple mengklaim layar tersebut menawarkan kontras lebih tinggi dan tingkat kecerahan puncak lebih dari dua kali lipat dibanding iPad mini generasi sebelumnya. Desain perangkat juga dibuat lebih tipis dan ringan, disertai sertifikasi ketahanan terhadap air dan debu.
Dapur pacu dipegang chip A20 Pro yang dilengkapi Neural Accelerator di setiap inti GPU serta Dual 16-core Neural Engine. Kombinasi ini disebut mempercepat pemrosesan tugas kecerdasan buatan langsung di perangkat.
Untuk kebutuhan video call, Apple menempatkan kamera depan 12MP Center Stage di sisi lanskap. Ada pula teknologi Acoustic Display yang diklaim menghadirkan pengalaman audio lebih baik, dukungan konektivitas nirkabel dan seluler lebih cepat, serta fitur pengisian daya cepat.
Di tengah deretan peningkatan tersebut, publik teknologi justru menyoroti satu hal yang tidak diubah Apple, yakni refresh rate layar yang tetap 60Hz. Padahal, perangkat ini diposisikan sebagai pembaruan besar di tahun 2026.
Kritik mengalir di kolom komentar dan forum diskusi. Sebagian pengguna mempertanyakan keputusan Apple mempertahankan panel 60Hz pada perangkat yang dibanderol cukup premium.
"700 dolar dan tidak ada layar 120Hz?" tulis salah satu komentator, seperti dikutip dari laporan yang beredar.
Komentator lain menyebut dirinya tertarik menambah iPad mini ke koleksinya, tetapi urung karena layar 60Hz, penyimpanan 128GB, dan absennya Face ID dianggap tidak sepadan dengan harga yang sudah tinggi.
"60Hz di tahun 2026. Apple seharusnya malu," ujar komentator lainnya.
Kritik semakin menguat ketika dibandingkan dengan perangkat Android di kelas serupa. Redmagic Astra 2, yang disebut sebagai kompetitor terdekat, disebut mengusung layar dengan refresh rate hingga 185Hz.
Angka tersebut jauh melampaui standar 120Hz yang kini lazim di banyak perangkat, termasuk model kelas menengah ke bawah. Kondisi ini membuat keputusan Apple mempertahankan 60Hz terlihat janggal di pasar yang semakin kompetitif.
Apple dikenal memiliki pemahaman mendalam soal pasar iPad mini. Secara historis, perangkat ini banyak digunakan untuk keperluan bisnis, mulai dari staf restoran yang meneruskan pesanan ke dapur, terminal pembayaran bergerak, hingga sistem inventaris gudang.
Aplikasi-aplikasi tersebut nyaris tidak merasakan manfaat refresh rate tinggi. Di sisi konsumen, tidak semua pengguna peka terhadap perbedaan 60Hz dan 120Hz, dan sebagian menilai fitur itu hanya relevan untuk gaming.
Dengan menggabungkan mayoritas pasar bisnis dan konsumen yang tidak terlalu peduli, Apple tampaknya menyimpulkan bahwa fitur tersebut bukan prioritas. Namun, bagi kelompok pengguna yang peduli, absennya refresh rate tinggi terasa sebagai kekurangan yang sulit dimaafkan.
Sejumlah pengamat menilai selisih biaya komponen untuk menghadirkan panel 120Hz tidaklah besar, mengingat fitur itu sudah menjadi standar di banyak perangkat murah. Alhasil, keputusan Apple dinilai seharusnya tetap mengakomodasi kebutuhan minoritas pengguna yang menginginkan pengalaman visual lebih mulus.