SUMATERA SELATAN — Pada perdagangan Rabu (3/6), IHSG ditutup di level 5.941, ambles 254,36 poin atau 4,11% dari posisi sebelumnya. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 25,21 triliun dengan 40,06 miliar saham berpindah tangan. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 69 saham yang menguat, sementara 692 saham lainnya tertekan ke zona merah.
Rumor S&P vs Fundamental yang Solid
Purbaya menolak anggapan bahwa inflasi 3% atau data ekonomi domestik yang memburuk menjadi biang kerok. Menurutnya, inflasi saat ini masih berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 2,5% plus minus 1%. "Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia secara spesifik menyebut isu yang beredar di pasar domestik soal rencana Standard & Poor's menurunkan peringkat kredit Indonesia. "Banyak rumor di dalam negeri. Ada rumor S&P akan mendowngrade (peringkat kredit Indonesia). Padahal saya baru mau ketemu nanti malam," kata Purbaya.
Pajak dan Daya Beli Jadi Bukti
Untuk membantah kekhawatiran investor, Purbaya menyodorkan data penerimaan pajak yang dinilainya masih tumbuh kencang pada Mei lalu. Ia juga menyebut aktivitas ekonomi di daerah—mulai dari tempat hiburan hingga hotel—masih ramai, menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga. "Domestic demand masih kuat," tegasnya.
Meski optimistis, Purbaya enggan memprediksi level IHSG ke depan. Ia hanya berjanji pemerintah akan menjaga sentimen pasar dan memastikan fondasi ekonomi tetap kokoh. "Kalau nanya level enggak tahu. Saya bilang enggak usah takut. Kita akan pastikan lagi semuanya lebih baik," ujarnya.
Apa Artinya bagi Investor?
Pernyataan Menkeu ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tengah berupaya meredam kepanikan jangka pendek. Namun, fakta bahwa IHSG kehilangan hampir 5% dalam sehari menunjukkan bahwa pasar masih merespons negatif terhadap ketidakpastian, terutama yang berasal dari lembaga rating global. Bagi investor, isu downgrade S&P bukanlah sekadar gosip—bila benar terjadi, bisa memicu arus keluar modal asing lebih besar dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan pertemuan antara pemerintah dan S&P dalam waktu dekat, serta data fundamental domestik seperti neraca perdagangan dan cadangan devisa yang akan dirilis pekan depan.