SUMATERA SELATAN — Paragraf pembuka: Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno menyampaikan proyeksi tersebut di Jakarta, Jumat (11/9/2026). Menurutnya, tekanan energi terbarukan akan membuat pasar global cenderung menyusut tipis, tetapi tidak serta-merta menutup peluang bagi produsen dalam negeri.
India dan China Masih Jadi Pasar Utama
“Pasar global dalam lima tahun ke depan diperkirakan cenderung mengalami penurunan tipis, di mana tekanan energi terbarukan menjadi semakin kuat, sementara India dan kawasan Asia masih memberikan ruang untuk pertumbuhan,” kata Tri, melansir Antara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor batu bara pada 2025 turun 19,70% secara tahunan menjadi US$ 24,48 miliar dari sebelumnya US$ 30,49 miliar. Dari sisi volume, pengiriman ke India mencapai 100,24 juta ton, China 81,79 juta ton, Filipina 37,70 juta ton, Korea Selatan 28,29 juta ton, dan Jepang 27,17 juta ton.
Dari sisi nilai, ekspor ke India mencapai US$ 4,97 miliar, China US$ 4,58 miliar, Jepang US$ 2,86 miliar, Filipina US$ 2,20 miliar, dan Korea Selatan US$ 1,84 miliar. India dan China diprediksi tetap menjadi pasar utama ekspor batu bara Indonesia.
Produksi 2025 dan Alokasi Domestik
Total produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton. Sebanyak 63,89% produksi dialokasikan untuk ekspor, 30,2% untuk kebutuhan domestik, dan 5,9% menjadi stok.
Angka itu menjadi basis pemerintah menetapkan target produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2025.
Pemerintah Seimbangkan Produksi dan Kebutuhan Pasar
Dengan prospek permintaan global tersebut, Tri mengatakan pemerintah tidak lagi semata-mata mengejar volume produksi, tetapi menyeimbangkan produksi dan kebutuhan pasar. Pendekatan itu mempertimbangkan kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation/DMO), kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan.
Perubahan kondisi pasar global ke depan juga akan mendorong produsen batu bara meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Hilirisasi dinilai diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara dan memperpanjang rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri.
Penutup: Penurunan volume dan nilai ekspor 2025 menjadi sinyal awal bahwa era permintaan tinggi batu bara mulai bergeser. Bagi Indonesia, tantangannya bukan lagi sekadar mengejar tonase, melainkan menjaga keseimbangan antara penerimaan ekspor, pasokan domestik, dan keberlanjutan cadangan di tengah transisi energi global.