SUMATERA SELATAN — Kukis Kolombeng adalah kue panggang tradisional dari Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, yang biasanya hanya hadir saat syukuran, acara adat, atau perayaan gereja. Kue berbahan dasar telur, gula, dan rempah ini dipanggang memakai sabut kelapa, bukan oven listrik. Traveler yang berkunjung ke Pulau Siau bisa memesannya langsung sebagai oleh-oleh khas.
Pulau Siau dikenal luas karena Gunung Karangetang, gunung berapi paling aktif di Indonesia, sekaligus sebagai penghasil buah pala dengan kualitas terbaik di dunia. Di balik dua identitas itu, pulau kecil di Sulawesi Utara ini menyimpan satu kuliner yang jarang dijumpai di tempat lain: kukis kolombeng bakar.
Kukis kolombeng sejenis bolu atau chiffon cake tradisional khas Pulau Siau. Bukan kue harian. Karena itu, setiap adonannya selalu dibuat dengan penuh niat baik, kebersamaan, dan rasa syukur.
Bukan Kue Harian, Hadir di Momen Khusus
Di Pulau Siau, kukis kolombeng hanya muncul saat perayaan tertentu seperti syukuran, acara adat, perayaan gereja, atau momen keluarga besar. Kelangkaan inilah yang membuat kehadirannya selalu ditunggu.
Karena bukan produksi harian, traveler tidak bisa menemukannya di sembarang toko kue. Untuk mencicipinya, pembeli perlu meminta langsung kepada pelaku kuliner lokal agar memasak kukis kolombeng bakar.
Bahan dan Cara Membuat
Adonan kolombeng memakai bahan yang cukup banyak. Resepnya mencakup 10 butir telur, 500 gram gula pasir, 1 kilogram tepung terigu, 1 kaleng susu kental manis, 1,5 sendok makan kayu manis bubuk, 1,5 sendok makan bumbu spekuk, 4 gelas gula batu yang dilelehkan, setengah tube besar SP, sekitar 1,5 sendok makan kulit jeruk nipis parut, dan 1 sendok makan vanili.
Prosesnya dimulai dengan mengocok telur, gula pasir, dan SP sampai mengembang, kental, dan berjejak. Susu kental manis dimasukkan secukupnya lalu dikocok sebentar. Gula batu cair, bumbu spekuk, kayu manis, dan kulit jeruk nipis parut dituang, lalu dikocok kembali hingga rata. Tepung ditambahkan perlahan sambil diaduk sampai adonan halus.
Tahap pemanggangan jadi pembeda utama. Oven dipanaskan memakai api dari bakaran sabut kelapa atau gonofu. Cetakan dipanaskan dan diolesi mentega, adonan dituang, lalu diberi kenari di atasnya. Cetakan ditutup, dan begitu adonan mengembang, api diletakkan di bagian atas oven. Kukis matang saat warnanya berubah merah kecoklatan.
Rasa dan Paduan Rempah Lokal
Kukis kolombeng paling nikmat disantap hangat bersama secangkir teh atau kopi. Kenari cincang memberi sensasi renyah, gurih, dan aroma kacang yang harum saat berpadu dengan adonan telur dan gula.
Di Siau, adonan dasar kolombeng kerap dipadukan dengan kearifan lokal. Sebagian pembuat memakai gula merah, rempah pala atau fuli pala, serta taburan kenari cincang atau belah di atasnya sebelum dipanggang. Pala inilah yang mengaitkan kue ini dengan komoditas kebanggaan pulau tersebut.
Tips Traveler
- Pesan lebih dulu kepada pelaku kuliner lokal karena kukis ini tidak diproduksi setiap hari.
- Minta dipanggang saat hari keberangkatan agar kue masih harum dan renyah saat dibawa pulang.
- Simpan dalam wadah kedap udara supaya teksturnya tidak melembek selama perjalanan.
- Pastikan kemasan cukup kuat untuk perjalanan laut atau udara dari Sitaro.
Untuk informasi terkini soal ketersediaan dan harga, traveler dapat menghubungi pelaku kuliner setempat atau dinas pariwisata Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Mencicipi kukis kolombeng bukan sekadar urusan rasa. Kue ini membuka pintu pada tradisi memasak bersama warga Pulau Siau, dari bakaran sabut kelapa hingga aroma pala yang khas. Sisihkan waktu untuk memesannya sebelum meninggalkan pulau.