SUMATERA SELATAN — Serial drama "Queen Silvia" siap tayang perdana di ajang Mipcom, mengangkat kisah nyata penerjemah Jerman-Brasil Silvia Sommerlath yang menikah dengan Putra Mahkota Swedia Carl Gustaf pada 1976. Diproduksi Beta Film bersama Pyjama Pictures dan Unlimited Stories, serial ini dibintangi Alicia von Rittberg dan Edvin Endre. Tim kreatif menegaskan kisahnya bukan dongeng Cinderella, melainkan tentang perempuan yang harus berdamai dengan takdir barunya.
Beta Film membawa "Queen Silvia" ke panggung dunia lewat pemutaran perdana di Mipcom. Serial ini menggali kisah cinta nyata antara Silvia Sommerlath, seorang penerjemah kelahiran Jerman-Brasil, dan Putra Mahkota Swedia Carl Gustaf. Sutradara Miguel Alexandre memimpin produksi yang melibatkan rumah produksi Pyjama Pictures asal Jerman dan Unlimited Stories asal Swedia.
Produksi ini dibuat untuk Prime Video di Jerman, Austria, kawasan berbahasa Jerman di Swiss, serta negara-negara Nordik. Selain itu, serial ini juga akan tayang di SAT.1 Jerman. Kombinasi pasar Eropa dan Nordik menunjukkan ambisi Beta Film menjangkau penonton lintas negara.
Sinopsis: Bukan Kisah Cinderella
Serial ini mengikuti perjalanan Silvia Sommerlath, perempuan yang tumbuh di antara dua budaya dan mencari tempat untuk pulang. Ia bertemu Carl Gustaf pada 1972, lalu keduanya bertunangan empat tahun kemudian. Jeda waktu itulah yang jadi inti cerita.
"For royals, that's a long time. We asked: 'What happened within those four years?' That's where we found the heart of our tale. It's not about a woman who wants to become a queen; it's about a woman who has to come to terms with it. It's not a Cinderella story," ujar showrunner Carsten Kelber.
Silvia digambarkan sebagai sosok yang sudah mandiri sebelum masuk ke istana. Ia bukan perempuan yang mencari seseorang untuk melengkapinya. Justru pertanyaannya: bagaimana seseorang menyesuaikan diri di dunia yang menuntut ia melepas hal-hal yang sudah ia bangun?
Pemeran dan Sudut Pandang Cerita
Alicia von Rittberg memerankan Silvia, sementara Edvin Endre memerankan Carl Gustaf. Endre menyoroti sisi manusiawi sang raja yang sering luput dari sorotan.
"Carl Gustaf has said publicly that he needed to find a queen for Sweden. It was difficult for him to date because he needed someone who could 'do the job.' Silvia was far better at it than he ever was," kata Edvin Endre.
Von Rittberg menambahkan bahwa Silvia tidak mudah terkesan dengan lingkungan barunya. Ia mencoba menemukan posisinya sendiri di tengah istana. "She wasn't looking for someone to make her 'whole'. She was already very independent. But how do you fit into a world where you have to give up the things you've built for yourself?" ujarnya.
Daya Tarik Cerita Kerajaan
Meski kritik terhadap institusi kerajaan terus muncul di berbagai negara, tim produksi yakin penonton tetap tertarik. Carsten Kelber menyebut rasa penasaran publik tidak akan hilang.
"I lived in Britain with my parents and since then, I've been obsessed with royalty. Even if you're against it, you have an opinion about it. I don't think they will ever go away," ucap Kelber.
Alexandre menilai kisah cinta kerajaan punya daya tarik karena adanya batasan dan konflik. Di masyarakat modern, hambatan seperti itu makin jarang ditemui. Itulah yang membuat cerita semacam ini tetap relevan.
Produser eksekutif Justus Riesenkampff optimistis cerita ini bisa diterima pasar global. "Even though it's a very European story, people will see that it's universal and can be sold – and watched – from Tokyo to Buenos Aires," katanya.
Musim pertama "Queen Silvia" berfokus pada tema cinta. Musim berikutnya disebut akan menggali lebih dalam soal tugas dan tanggung jawab. Kelber sendiri lebih suka menyebutnya "romantic drama" ketimbang sekadar kisah cinta. Menurutnya, cerita ini berjalan cukup dalam untuk menyandang label tersebut.