SUMATERA SELATAN — PT Pertamina (Persero) dan PT Transportasi Jakarta menandatangani nota kesepahaman pengembangan ekosistem hidrogen untuk transportasi publik di Jakarta, Senin (12/10). Kerja sama ini menyiapkan dua bus berbasis fuel cell electric vehicle (FCEV) yang ditargetkan mulai ditempatkan pada 2028. Kedua bus itu berasal dari hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia.
Jakarta – Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza meneken MoU di Jakarta. Penjajakan itu mencakup kajian dan pengembangan solusi energi bersih, termasuk peluang penerapan kendaraan berbasis hidrogen lewat program percontohan atau proof of concept.
Bagi Pertamina, langkah ini menyambung proyek Waste to Hydrogen (W2H) yang memanfaatkan gas metana dari sampah untuk menghasilkan biometana dan hidrogen rendah karbon. Inisiatif tersebut menyambungkan pengembangan energi bersih dengan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Dua Bus FCEV Tiba Lewat Hibah Pemerintah Korsel
Dua bus berbasis hidrogen atau fuel cell electric vehicle (FCEV) ditargetkan mulai ditempatkan pada 2028. Bus itu berasal dari hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia dan direncanakan melayani rute Transjakarta.
Agar bus bisa beroperasi, Pertamina dan Transjakarta perlu menyiapkan infrastruktur produksi dan pengisian hidrogen. Tanpa stasiun pengisian yang memadai, armada FCEV tidak bisa dioperasikan secara rutin.
Mengapa Kolaborasi Penyedia Energi dan Operator Jadi Kunci
Oki menilai pengembangan hidrogen untuk transportasi publik butuh kolaborasi erat antara penyedia energi dan operator transportasi. Tujuannya agar teknologi bisa diterapkan secara terintegrasi dan berkelanjutan, bukan sekadar uji coba terpisah.
"Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, kami ingin menjajaki pengembangan ekosistem hidrogen yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi bersih di sektor transportasi, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan energi dan pengurangan emisi," ujar Oki, Senin (12/10).
Menurut Oki, sinergi lintas sektor menjadi kunci memperkuat pemanfaatan energi bersih di Indonesia. Lewat kolaborasi dengan Transjakarta, Pertamina berharap hidrogen bisa menjadi salah satu alternatif energi bagi transportasi publik sekaligus membuka peluang penerapan teknologi rendah karbon.
"Kami berharap penjajakan ini menjadi pijakan awal bagi tumbuhnya ekosistem hidrogen di Indonesia," kata Oki.
Dampak ke Warga Jakarta dan Target Emisi Nasional
Bagi penumpang Transjakarta, bus hidrogen menawarkan alternatif armada yang lebih bersih dibanding bus berbahan bakar fosil. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri menanggung beban peningkatan kualitas udara Ibu Kota, sehingga uji coba ini menjadi salah satu jalur yang dipertimbangkan.
Pada skala lebih luas, inisiatif ini mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat. Proyek W2H juga menyentuh persoalan sampah kota yang selama ini jadi pekerjaan rumah tersendiri.
MoU ini masih berstatus penjajakan, belum masuk tahap kontrak pengadaan atau komitmen investasi. Pertamina dan Transjakarta perlu menyelesaikan kajian teknis dan kelayakan sebelum dua bus FCEV itu benar-benar beroperasi melayani warga Jakarta pada 2028.