Pencarian

Korsel Buka Peluang Investasi PLTS 100 GWp, Bawa Teknologi dan Modal untuk RI

Kamis, 27 Agustus 2026 • 15:17:31 WIB
Korsel Buka Peluang Investasi PLTS 100 GWp, Bawa Teknologi dan Modal untuk RI
Kedutaan Besar Korea Selatan mendorong keterlibatan perusahaan negeranya dalam proyek PLTS 100 GWp Indonesia.

SUMATERA SELATAN — Political Section Chief Kedutaan Besar Korea Selatan Uhm Taeho mengungkapkan harapannya agar proyek raksasa PLTS 100 GWp Indonesia tidak hanya melibatkan satu negara. Pihaknya mendorong keterlibatan perusahaan Korea yang dinilai memiliki industri surya yang mumpuni.

"Kami mengetahui ada beberapa negara dengan perusahaan-perusahaan besar yang sangat menonjol di industri surya. Kami selalu menganjurkan agar proyek ini tidak hanya melibatkan satu negara. Kami berharap negara seperti Korea juga dilibatkan. Kami memiliki industri surya yang sangat baik," kata Uhm dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Rabu (26/8).

Skema Kemitraan: Modal Asing, Tenaga Kerja Lokal

Uhm memaparkan bentuk kerja sama yang ditawarkan. Jika perusahaan Korea mendapat kesempatan berinvestasi, mereka akan membawa teknologi dan uang, sementara fasilitas yang dibangun akan menyerap tenaga kerja Indonesia.

"Jika perusahaan surya kami mendapat kesempatan untuk berinvestasi di Indonesia, bentuknya adalah kami membawa teknologi dan uang, tetapi kemudian kami akan mempekerjakan orang Indonesia di fasilitas apa pun yang akan kami bangun," ujarnya.

Skema ini, menurut Uhm, secara alami mencakup pengembangan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan serta transfer pengetahuan dan teknologi kepada Indonesia. "Ini merupakan proses yang sangat alami untuk mengembangkan tenaga kerja, melatih tenaga kerja, dan mentransfer pengetahuan serta teknologi kepada negara tuan rumah," katanya. Pihaknya masih ingin membicarakan bentuk kerja sama yang lebih konkret dengan pemerintah Indonesia.

Energi Bersih Bukan Lagi Sekadar Kewajiban Moral

Dari sisi Indonesia, Head of the Center of the Asia Pacific and Africa Region Policy Strategy Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela menegaskan bahwa pengembangan energi alternatif merupakan komitmen lintas pemerintahan yang sudah berjalan lama. Namun, ia menyoroti urgensi baru di balik percepatan transisi energi ini.

"Saat ini bagi Indonesia, kebutuhan untuk melakukan pengurangan karbon lebih dari sekadar kewajiban moral, tetapi juga didorong oleh kebutuhan untuk memiliki akses pasar," kata Nabyl.

Menurutnya, komitmen untuk mengembangkan sumber energi di luar batu bara dan energi fosil sebenarnya telah dibuat Indonesia jauh sebelum ini dan dijalankan oleh berbagai pemerintahan. "Terkait pengembangan sumber energi alternatif selain yang berbasis batu bara dan energi fosil, saya pikir komitmen tersebut sebenarnya sudah dibuat Indonesia jauh sebelum kemarin. Komitmen itu telah dijalankan oleh berbagai pemerintahan," ujarnya.

Rivalitas AS-China dan Kompleksitas Pilihan Mitra

Nabyl menilai pengembangan energi bersih saat ini berlangsung di tengah situasi global yang jauh lebih rumit. Rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China serta berbagai konflik dunia turut memengaruhi prioritas Indonesia dalam menentukan mitra dan pilihan kebijakan.

"Tantangannya ada di bidang ekonomi, lingkungan, dan juga kesejahteraan. Sekarang situasinya jauh lebih rumit dengan rivalitas China-AS. Kita juga perlu mempertimbangkan sejumlah konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia yang berdampak pada prioritas kita, cara kita memilih mitra, dan pilihan kebijakan kita," katanya.

Kondisi ini, lanjut Nabyl, menjadi ruang bagi Indonesia dan Korea untuk saling memperbarui pandangan mengenai pilihan kebijakan dalam menghadapi tantangan global. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas Indonesia dalam menghadapi kejutan global yang tidak selalu berasal dari hubungan bilateral.

"Sejumlah kejutan terjadi saat ini, termasuk di berbagai belahan dunia. Jadi, kita perlu memiliki kesiapan untuk fleksibel dalam menghadapi tantangan seperti ini yang terkadang tidak berasal dari hubungan bilateral kita, tetapi dari negara lain," kata Vahd.

Kerja Sama Menuju Pertumbuhan Hijau

Nabyl menempatkan kerja sama energi bersih dan kendaraan listrik (EV) dalam agenda yang lebih besar antara kedua negara, yakni menuju green growth. "EV merupakan bagian dari skema kerja sama yang lebih besar menuju tujuan bersama, yaitu pertumbuhan hijau. Itu merupakan tujuan yang sangat didorong oleh para pemimpin dan pemerintah kita," ujarnya.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks