SUMATERA SELATAN — Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf, menyebut kebiasaan sebagian warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) membakar lahan untuk memunculkan tunas tanaman baru. Praktik ini, menurutnya, memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika musim kemarau membuat vegetasi mudah terbakar.
"Ini kan ada tradisi masyarakat setempat, tradisi melakukan pembakaran untuk tumbuh tanaman baru," ujar Helfi saat melakukan kunjungan di Way Kambas pada Selasa (25/8/2026).
Tanaman Baru Menarik Satwa, Api Justru Meluas
Helfi menjelaskan, tunas baru pasca-pembakaran kerap menjadi daya tarik bagi satwa herbivora di ekosistem TNWK. Namun, api yang tidak terkendali justru melahap area lebih luas dan memunculkan titik api baru.
Meski menjadi perhatian serius, penanganan karhutla di TNWK belum diarahkan ke proses hukum. "Ya, saat ini tidak ada," kata Helfi ketika ditanya kemungkinan kasus naik ke tahap penyidikan.
Edukasi dan Patroli Gabungan Jadi Prioritas
Alih-alih penyidikan, aparat memilih jalur pencegahan. Helfi menegaskan pihaknya bersama TNI, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan masyarakat setempat terus menggencarkan edukasi agar tradisi membakar lahan tidak kembali memicu bencana kabut asap.
"Kita sudah bersama-sama dengan TNI, kemudian Forkopimda, dan masyarakat setempat tentunya, untuk diedukasi supaya tidak melakukan hal tersebut," terangnya.
Langkah sosialisasi ini akan dilakukan secara masif sebagai antisipasi jangka panjang. "Dan ini terus kita lakukan secara masif dan tentunya ini paling penting, karena untuk mengantisipasi tidak terjadi di kemudian hari," katanya.
Kekeringan Ekstrem dan Pembentukan Tim Gabungan
Sebelumnya, Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyebut kekeringan ekstrem sebagai dugaan awal penyebab kebakaran. Meski demikian, pihaknya tetap mendalami kemungkinan penyebab lain di lapangan.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menambahkan bahwa pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan pengelola TNWK telah membentuk tim gabungan untuk memitigasi potensi munculnya hotspot baru. "Pak Gubernur utamanya mengomandoi tim gabungan. Mulai dari TNI, Polri, dan juga seluruh dari tim TNWK, Balai, membentuk suatu tim gabungan untuk bisa memitigasi hal-hal yang berpotensi menjadikan titik api, hotspot baru," jelas Jihan.
Pramuka dan Aktivis Lingkungan Dilibatkan
Pemerintah Provinsi Lampung berencana memperluas partisipasi dalam pengawasan kawasan konservasi. Jihan menyebut komunitas seperti Pramuka dan aktivis lingkungan akan diajak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
"Kita juga mengajak seluruh komunitas, seperti dari Pramuka atau dari aktivis-aktivis lingkungan lainnya untuk bisa sama-sama menjaga. Atau aware, lebih aware bagaimana potensi terjadinya api dan lain sebagainya. Itu sosialisasi akan kita masifkan lagi," pungkasnya.