PRABUMULIH — Intensitas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Prabumulih menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat harus menangani dua hingga tiga kali kejadian kebakaran setiap harinya, memaksa personel berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain secara beruntun.
Kepala BPBD Kota Prabumulih, Sriyono SH, mengakui beban kerja petugas di lapangan saat ini sangat berat. Setelah menyelesaikan pemadaman di satu titik, tim harus segera bersiap menghadapi laporan baru yang datang susulan dari wilayah lain.
Empat Posko Siaga dan Beban Operasional yang Meningkat
Untuk mempercepat respons, BPBD Prabumulih telah menempatkan personel di empat posko yang tersebar di wilayah kota. Setiap posko diminta bergerak cepat begitu menerima informasi dari masyarakat mengenai munculnya titik api.
“Karhutla, di empat posko disiagakan. Petugas kita terus bekerja keras memadamkan api. Karhutla memang kerap terjadi dampak dari El Nino ini,” ujar Sriyono, Rabu (26/8/2026).
Tingginya frekuensi kebakaran berimplikasi langsung pada pembengkakan kebutuhan operasional. Konsumsi bahan bakar kendaraan, logistik personel, hingga pasokan air untuk pemadaman meningkat drastis dibandingkan hari normal.
Anggaran Menipis, Penanganan Tetap Prioritas
Sriyono tidak menampik bahwa pos anggaran penanganan bencana yang dimiliki instansinya kini semakin tergerus. Meski begitu, ia menegaskan bahwa keterbatasan finansial tidak boleh menghambat upaya pengendalian api di lapangan.
“Anggaran terus menipis, sering banyaknya kejadian Karhutla. Tetapi, hal itu terus harus dilakukan guna menekan dampak Karhutla,” bebernya.
Menurutnya, penundaan penanganan hanya akan membuat api semakin meluas dan berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan serta gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap. Karena itu, setiap laporan tetap direspons secepat mungkin tanpa menunggu instruksi tambahan.
Masyarakat Diimbau Aktif Cegah Kebakaran Lahan
Di tengah keterbatasan tersebut, BPBD Prabumulih menggencarkan imbauan pencegahan. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di area gambut dan semak kering yang rawan memicu api membesar.
“Kita tetap lakukan penanganan. Yang penting bagaimana dampak Karhutla ini bisa ditekan dan tidak meluas,” pungkas Sriyono.
Pihaknya berharap kesadaran warga untuk tidak membakar lahan dapat membantu meringankan beban petugas sekaligus menekan risiko bencana asap di Kota Prabumulih hingga musim hujan tiba.