Rupiah Sentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah, Pengamat Unsri Sebut Ekonomi Sumsel Terancam Efek Domestik

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 05:24:02 WIB
Nilai tukar rupiah mencapai rekor terendah Rp17.865 per dolar AS pada 29 Mei 2026.

PALEMBANG — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus rekor terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Refinitif, kurs rupiah berada di posisi Rp17.865 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Pelemahan ini tidak hanya menjadi alarm bagi pasar keuangan nasional, tetapi juga mengancam daya beli masyarakat dan iklim investasi di daerah seperti Sumatera Selatan.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Sumsel: Harga Impor dan Investor Asing Tertekan

Menurut Sukanto Sairuki, tekanan terhadap rupiah kali ini bukan sekadar gejolak sementara. Ia menilai depresiasi yang terus-menerus akibat konflik geopolitik global dan perang dagang telah membuat fundamental ekonomi domestik rentan.

“Pelemahan rupiah memang bukan fenomena baru. Tetapi ketika depresiasi berlangsung terus-menerus akibat tekanan global, dampaknya bisa menekan ekonomi nasional secara luas,” ujar dosen Universitas Sriwijaya itu, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan, kondisi rupiah saat ini sudah memasuki fase overshooting, yakni pelemahan yang dinilai melampaui kondisi fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia. Dampak langsungnya, kata Sukanto, akan terasa pada kenaikan harga barang impor, tekanan terhadap dunia usaha, hingga menurunnya minat investor asing masuk ke Indonesia.

BI dan Pemerintah Diminta Segera Ambil Langkah Stabilisasi

Ketidakpastian kurs yang tinggi disebut berpotensi membuat pelaku pasar memilih instrumen investasi yang lebih aman dibandingkan menanamkan modal di negara berkembang seperti Indonesia.

“Kalau situasi ini terus berlangsung, investor asing bisa memilih keluar dari pasar domestik dan mencari instrumen yang dianggap lebih aman,” jelas Sukanto.

Meski demikian, ia berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengembalikan kepercayaan pelaku usaha maupun investor terhadap perekonomian nasional. “Harapannya rupiah bisa kembali stabil pada level yang lebih sehat sehingga memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha,” pungkasnya.

Mengapa Rupiah Terus Tertekan? Faktor Global dan Domestik

Sukanto menambahkan, gejolak eksternal seperti konflik geopolitik dunia, perang dagang, hingga ketidakstabilan ekonomi global menjadi faktor utama yang membuat rupiah terus tertekan. Namun di sisi lain, pemerintah juga dinilai perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan ekonomi domestik agar nilai tukar tidak semakin rentan terhadap tekanan luar negeri.

“Ini harus menjadi momentum refleksi bagi pemerintah. Karena setiap ada tekanan global, rupiah selalu menjadi salah satu mata uang yang paling terdampak,” katanya.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top