PALEMBANG — Akses internet cepat dan keberadaan pelaku usaha kecil di ranah digital menjadi dua pilar utama strategi baru pariwisata Ibu Kota Sumatera Selatan. Pemkot Palembang telah menggelar jaringan WiFi gratis di 300 titik yang tersebar di kawasan wisata, pusat keramaian, dan ruang publik lainnya. Kebijakan ini menyasar kebutuhan dasar wisatawan modern yang mencari informasi destinasi, akomodasi, hingga kuliner secara instan melalui gawai mereka.
Tak hanya infrastruktur jaringan, Pemkot juga memfasilitasi 1.200 pelaku UMKM—khususnya di sektor kuliner dan ekonomi kreatif—untuk memiliki etalase digital. Proses ini mencakup pendaftaran di marketplace, pembuatan konten promosi, hingga pelatihan manajemen toko online. Langkah ini dinilai krusial mengingat sebagian besar wisatawan kini mencari rekomendasi tempat makan atau suvenir melalui ulasan di platform digital sebelum berkunjung.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang menyebutkan, data kunjungan wisatawan menunjukkan peningkatan signifikan pada titik-titik yang memiliki koneksi internet stabil dan ulasan digital positif. Sebelum program ini, banyak destinasi lokal yang hanya mengandalkan promosi mulut ke mulut atau brosur fisik. Kini, dengan peta digital dan informasi jam buka yang terintegrasi, wisatawan bisa merencanakan kunjungan secara mandiri.
Meski infrastruktur terus dibangun, tantangan utama justru berada pada sumber daya manusia. Tidak semua pelaku UMKM langsung mahir mengelola toko online atau membuat konten promosi yang menarik. Pemkot menggandeng komunitas digital dan perguruan tinggi setempat untuk memberikan pendampingan rutin. Selain itu, konten promosi berbasis budaya lokal—seperti video pembuatan pempek atau kain songket—mulai digalakkan untuk menarik wisatawan mancanegara.
Program ini merupakan bagian dari visi besar menjadikan Palembang sebagai kota smart tourism di Sumatra. Dengan populasi pengguna internet yang terus bertumbuh, digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan pokok dalam industri pariwisata daerah.