SUMATERA SELATAN — Kabar ini menjadi angin segar di tengah tekanan industri pupuk nasional yang sempat tertekan oleh perubahan kebijakan subsidi. Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menyatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan buah dari konsistensi transformasi internal. "Peringkat Pupuk Indonesia dalam Fortune Southeast Asia 500 mencerminkan kuatnya fundamental bisnis perusahaan yang dibangun melalui transformasi tata kelola dan peningkatan efisiensi secara berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6).
Pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 menyederhanakan mekanisme distribusi pupuk bersubsidi. Alhasil, penyaluran ke petani menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Kebijakan ini kemudian diperkuat dengan Perpres Nomor 113 Tahun 2025 yang mengubah skema subsidi dari cost plus menjadi market-to-market.
Perubahan ini dinilai memperbaiki struktur pembiayaan industri pupuk. Perusahaan kini memiliki ruang lebih besar untuk mengelola investasi dan efisiensi operasional tanpa terbebani fluktuasi biaya produksi yang tidak terkendali.
Efisiensi yang tercipta tidak hanya menguntungkan perusahaan. Sejak Oktober 2025, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi berhasil diturunkan sebesar 20 persen. "Manfaatnya juga kembali ke petani," kata Yehezkiel.
Dengan ongkos produksi yang lebih rendah, Pupuk Indonesia bisa menyalurkan pupuk dengan harga lebih murah tanpa mengorbankan kualitas. Ini menjadi dorongan signifikan bagi ketahanan pangan nasional di tengah tekanan harga komoditas global.
Pupuk Indonesia tidak berhenti pada efisiensi jangka pendek. Perusahaan mengakselerasi revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan. Salah satu proyek yang sudah rampung adalah Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kalimantan Timur, yang berhasil menekan konsumsi gas lebih dari 10 persen.
Di sisi hilirisasi, perseroan membangun pabrik soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik metanol juga tengah dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis nasional.
Langkah ini memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai pemain utama di kawasan Asia Tenggara sekaligus pilar penting dalam ekosistem pertanian dan industri kimia dalam negeri.