SUMATERA SELATAN — Kekhawatiran pasar terhadap sikap agresif bank sentral Amerika Serikat kembali menghantui nilai tukar rupiah. Di awal sesi perdagangan hari ini, rupiah langsung terperosok ke level psikologis Rp17.987 per dolar AS, mendekati batas bawah Rp18.000 yang selama ini diantisipasi para pelaku pasar.
Pemicu utama pelemahan rupiah pagi ini adalah rilis data inflasi inti Amerika Serikat yang tak kunjung mereda. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) inti tercatat naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023, memberi sinyal bahwa tekanan harga di negara adidaya itu masih panas.
Laporan tersebut langsung direspons dengan pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve. Pasar pun kembali menaikkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya lagi—skenario yang selalu menjadi momok bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Di kawasan Asia, pelemahan rupiah bukanlah cerita tunggal. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dengan depresiasi 0,38 persen terhadap dolar AS. Rupiah menyusul di posisi kedua dengan pelemahan 0,25 persen. Dolar Singapura dan yen Jepang juga ikut terkoreksi, meski tipis.
Namun, ada sedikit kelonggaran di beberapa negara tetangga. Ringgit Malaysia justru terapresiasi 0,31 persen, diikuti peso Filipina yang naik 0,07 persen. Pergerakan bervariasi ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS tidak merata, dan fundamental domestik masing-masing negara ikut berperan.
Lukman Leong, analis mata uang dari DOO Financial Futures, menilai tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Menurutnya, kombinasi data inflasi AS yang panas dan sikap keras pejabat The Fed menjadi bom waktu bagi nilai tukar negara berkembang.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak liar di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp18.000 menjadi tembok psikologis yang jika ditembus, bisa memicu aksi beli dolar lebih masif dari importir dan pelaku korporasi.
Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar, pelemahan ini jelas menjadi tekanan tambahan pada biaya produksi. Sementara bagi eksportir, rupiah yang lemah justru menguntungkan karena pendapatan dalam dolar bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Investor di pasar saham dan obligasi juga perlu mencermati pergerakan kurs ini. Pelemahan rupiah yang berlarut-larut biasanya memicu aksi jual asing di pasar modal karena imbal hasil riil menjadi tergerus. Bank Indonesia diperkirakan akan kembali melakukan intervensi ganda—di pasar spot dan Surat Berharga Negara (SBN)—untuk menahan laju depresiasi.
Investasi mengandung risiko.