PALEMBANG — Rencana pendirian Fakultas Budaya di Universitas Sriwijaya dan modernisasi sentra kerajinan purun di OKI menjadi fokus utama sinergi antara Forwida Sumsel dan Disbudpar. Kedua lembaga sepakat memperkuat ekosistem budaya daerah melalui skema kemitraan pentahelix yang melibatkan akademisi, budayawan, pemerintah, media, dan pelaku usaha.
Diah Kusuma Pratiwi menegaskan posisi Forwida sebagai lembaga berbadan hukum Yayasan Wisata dan Budaya yang mendukung penuh pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. "Kami hadir mendukung penuh pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata Sumsel. Forwida konsisten berkolaborasi dengan Disbudpar, Dinas Perindustrian, hingga Dinas Koperasi," ujar Diah dalam audiensi tersebut.
Ia didampingi jajaran pengurus Forwida Sumsel, antara lain Toni Panggarbesi, Asmawati, Isabella, Raden Genta Laksana, dan Ika Swastika. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyelaraskan program kerja antara lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah daerah.
Forwida Sumsel memiliki rekam jejak panjang dalam pelestarian budaya, mulai dari Festival Budaya, Lomba Pantun Palembang, Pelatihan Tanjak-Gandik, Pelestarian Aksara Kaganga, hingga seni Lacquer. Kini, organisasi ini memusatkan perhatian pada dua gebrakan besar.
Pertama, mendorong pendirian Fakultas Budaya di Universitas Sriwijaya. Langkah ini dinilai penting untuk melembagakan pendidikan dan riset kebudayaan di tingkat perguruan tinggi. Kedua, memodernisasi industri kerajinan purun di OKI, yang selama ini menjadi salah satu ikon kerajinan tradisional Sumsel namun masih menghadapi tantangan dalam hal pemasaran dan inovasi produk.
Kerajinan purun dari OKI selama ini dikenal sebagai produk anyaman khas, namun belum tergarap maksimal dari sisi desain dan akses pasar. Modernisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing di pasar regional maupun nasional. Sementara itu, Fakultas Budaya Unsri diproyeksikan menjadi pusat studi yang mengkaji dan mengembangkan kekayaan budaya Sumsel secara akademis.
Diah Kusuma Pratiwi menambahkan, sinergi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menjadikan budaya sebagai pilar pembangunan daerah. "Kami ingin budaya tidak hanya dilestarikan, tapi juga menjadi kekuatan ekonomi," pungkasnya.