PALEMBANG — Meski hujan sempat turun pada 19-30 Juli 2026 lalu akibat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BMKG menegaskan akumulasi curah hujan sepanjang Juli di sebagian besar Sumatera Selatan masih berada di bawah normal. Kondisi ini membuat rangkaian Hari Tanpa Hujan di banyak wilayah memang terputus, namun potensi kekeringan tetap mengintai saat puncak kemarau tiba.
Wandayantolis menjelaskan, fenomena El Nino saat ini telah aktif pada level kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Meski demikian, berdasarkan analisis BMKG, kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering tahun 1997 maupun 2015.
"Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot," ujarnya di Palembang, Jumat.
Data BMKG menunjukkan, saat ini terdapat beberapa wilayah di Sumsel yang telah mengalami HTH lebih dari 40 hari. Secara umum, sebagian besar wilayah mencatat HTH selama enam hingga 10 hari karena pengaruh hujan buatan yang dilakukan pada akhir Juli lalu.
"Sempat terjadi hujan pada akhir Juli, sehingga rangkaian HTH di banyak wilayah terputus. Karena itu sebagian besar HTH saat ini berada pada kisaran 6-10 hari, meski masih ada beberapa wilayah yang sudah lebih dari 40 HTH," jelas Wandayantolis.
Meski hujan sempat terjadi, BMKG mencatat akumulasi curah hujan sepanjang Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel masih lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, bulan lalu masih didominasi curah hujan di bawah normal.
Dengan kondisi tersebut, potensi karhutla dinilai tetap tinggi. BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September.
"Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September," ujar Wandayantolis.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta melaporkan segera jika menemukan titik api di lingkungan sekitar. Pemerintah daerah juga diharapkan siaga dalam melakukan pemantauan hotspot dan menyiapkan langkah mitigasi dini.