El Nino Kuat Diprediksi Bertahan, BMKG Sebut Puncak Kemarau Sumsel Terjadi Agustus-September

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:50:01 WIB
Kepala BMKG Sumatera Selatan Wandayantolis memaparkan prakiraan puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus hingga September 2026.

PALEMBANG — Kekeringan dan kebakaran hutan-lahan masih menjadi ancaman serius di Sumatera Selatan pada tahun ini. BMKG mencatat, fenomena El Nino yang sedang berlangsung telah mencapai level kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, meskipun analisis menunjukkan kemarau 2026 diprakirakan tidak akan sekering kejadian El Nino ekstrem pada 1997 maupun 2015.

Wandayantolis menjelaskan, hujan yang sempat turun pada 19-30 Juli 2026 akibat operasi modifikasi cuaca (OMC) memang memutus rangkaian hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah wilayah. Namun, akumulasi curah hujan sepanjang Juli lalu di sebagian besar Sumsel masih tercatat di bawah normal jika dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Lebih dari 40 Hari

Meski secara umum sebagian besar wilayah mencatat HTH selama 6-10 hari, BMKG menyebut masih ada sejumlah daerah yang telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian wilayah Sumsel sudah sangat kering dan rentan terhadap kemunculan titik panas atau hotspot.

“Sempat terjadi hujan pada akhir Juli, sehingga rangkaian HTH di banyak wilayah terputus. Karena itu sebagian besar HTH saat ini berada pada kisaran 6-10 hari, meski masih ada beberapa wilayah yang sudah lebih dari 40 hari tanpa hujan,” jelas Wandayantolis, Jumat (31/7/2026).

Intensitas Hujan Rendah Belum Efektif Padamkan Hotspot

BMKG menyebut peluang hujan masih mungkin terjadi selama periode kemarau, namun intensitasnya diprediksi rendah. Kondisi tersebut dinilai belum cukup efektif untuk mengurangi potensi munculnya titik panas di lapangan.

“Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot,” katanya.

Mengapa El Nino Tahun Ini Tidak Seekstrem 1997 dan 2015?

Berdasarkan analisis BMKG, meskipun indeks El Nino saat ini sudah berada pada level kuat dan berpotensi naik ke kategori sangat kuat, dampaknya terhadap pengurangan curah hujan di Sumsel diprakirakan tidak sedrastis dua peristiwa El Nino besar sebelumnya. Hal ini menjadi dasar prakiraan bahwa musim kemarau tahun ini tidak akan sekering kejadian historis tersebut.

“El Nino saat ini sudah aktif pada level kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Namun, berdasarkan analisis BMKG, kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering tahun 1997 maupun 2015,” ujar Wandayantolis.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September. Langkah pencegahan seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar sangat disarankan untuk menghindari meluasnya karhutla.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan Juli masih didominasi curah hujan di bawah normal. Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September,” tukasnya.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top