Tembang Batanghari Sembilan Terancam Punah, Akademisi UIN Palembang Susun Kaidah Baku untuk Selamatkan Warisan Melayu Sumsel

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 12:34:31 WIB
Akademisi UIN Raden Fatah Palembang menggelar FGD untuk merumuskan kaidah baku Tembang Batanghari Sembilan di Ruang Seminar Pascasarjana, Sabtu (1/8/2026).

PALEMBANG — Arus modernisasi dan digitalisasi dinilai mulai menggerus eksistensi Tembang Batanghari Sembilan, salah satu identitas budaya masyarakat Melayu Sumatera Selatan. Kekhawatiran akan kepunahan warisan lisan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan" yang digelar di Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (1/8/2026).

Forum yang berlangsung secara luring dan daring ini merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor atas nama Wanda Lesmana pada Program Studi S3 Peradaban Islam, Konsentrasi Islam Melayu Nusantara. Hadir pula Kepala Program Studi S3 Peradaban Islam Dr. Mohammad Syawaludin MA, Promotor Prof. Dr. Duski Ibrahim M.Ag, Ko-Promotor Dr. Alimron M.Ag, serta budayawan, penutur, pegiat seni, dan perwakilan Balai Bahasa Sumsel.

Mengapa Kaidah Baku Dianggap Mendesak?

Status Tembang Batanghari Sembilan sebagai sastra lisan menjadi tantangan terbesar dalam pelestariannya. Data dan dokumentasi ilmiah sulit diperoleh, sementara setiap daerah atau penutur memiliki interpretasi langgam yang berbeda-beda.

Ko-Promotor penelitian, Dr. Alimron M.Ag, menegaskan bahwa tanpa pedoman yang jelas, berbagai versi langgam yang berkembang di masyarakat berpotensi terus berubah. Akibatnya, keaslian tembang yang memiliki nilai seni, sastra, sejarah, dan spiritualitas tinggi ini bisa terkikis seiring waktu.

“Sebenarnya banyak referensi yang dapat digali. Namun karena Tembang Batanghari Sembilan merupakan sastra lisan, data dan dokumentasinya tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara akademisi dan para praktisi seni agar warisan budaya ini dapat didokumentasikan sekaligus dilestarikan dengan baik,” ujarnya.

Penelitian Etnomusikologi untuk Merumuskan Standar

Wanda Lesmana menjelaskan, penelitian disertasinya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi etnomusikologis. Tujuannya merumuskan kaidah langgam yang sistematis, baku, dan normatif sebagai dasar pelestarian warisan budaya takbenda.

“Tembang Batanghari Sembilan merupakan seni tutur lisan Melayu yang berkembang di sepanjang Daerah Aliran Sungai Musi. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif etnomusikologi, sastra lisan, dan nilai-nilai Islam sebagai satu kesatuan ekspresi estetika dan spiritual,” jelas Wanda.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya dialektika antara pola melodi yang dipertahankan sebagai identitas utama dengan variasi yang mengikuti perkembangan zaman. Perubahan media pertunjukan dari ruang agraris dan sungai menuju festival budaya hingga industri kreatif disebut memperkaya ekspresi, tetapi juga berpotensi menggeser bentuk aslinya.

Digitalisasi Jadi Jalur Alternatif Pelestarian

Selain penyusunan kaidah, forum ini juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi. Kepala Program Studi S3 Peradaban Islam, Dr. Mohammad Syawaludin, menilai pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan pewarisan lisan dari generasi ke generasi.

“Selama ini banyak kekayaan budaya yang diwariskan secara lisan, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, hasil penelitian seperti ini sangat penting sebagai referensi akademik maupun upaya pelestarian budaya,” katanya.

Ia mendorong pemanfaatan platform digital seperti YouTube sebagai sarana efektif untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan Tembang Batanghari Sembilan ke masyarakat luas. “Pelestarian budaya harus mengikuti perkembangan zaman. Dokumentasi digital menjadi salah satu cara agar warisan budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda,” tambah Syawaludin.

Kolaborasi lintas sektor antara akademisi, praktisi seni, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama. Pasalnya, tembang ini bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga media dakwah kultural masyarakat Melayu yang perlu dijaga eksistensinya.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top