SUMATERA SELATAN — Washington, DC – Rencana operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran batal dilaksanakan setelah tercapai kesepahaman awal mengenai kerangka kesepakatan damai. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian program nuklir Iran, demikian diungkapkan Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya, Sabtu (1/8/2026) malam waktu setempat.
Trump mengaku menerima permintaan langsung dari Iran dan sejumlah negara Timur Tengah untuk menahan serangan. Keputusan ini diambil meskipun militer AS telah berada dalam posisi siap tempur.
Menurut Trump, keterlibatan negara-negara kawasan menjadi titik krusial yang mengubah arah kebijakan Washington. Iran bersama beberapa negara di Timur Tengah meminta AS menahan diri setelah adanya perkembangan positif dalam pembicaraan damai.
Kerangka awal yang disepakati disebutkan memuat dua poin utama. Pertama, pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital pengangkutan minyak dunia. Kedua, penyelesaian atas program nuklir Iran yang selama ini menjadi ganjalan utama hubungan kedua negara.
Meski membatalkan serangan, Trump menegaskan posisinya tidak berubah terhadap Republik Islam Iran. Ia memastikan militer AS tetap berada dalam status siaga penuh.
"AS siap siaga dan selalu siap untuk melawan Republik Islam Iran," kata Trump, seperti dikutip dari CNN, Minggu (2/8/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembatalan ini bersifat taktis, bukan perubahan sikap fundamental Washington terhadap Teheran. Keputusan memberi ruang negosiasi diambil setelah mempertimbangkan potensi hasil diplomatik yang lebih besar dibandingkan eskalasi militer.
Perkembangan ini berlangsung cepat dalam hitungan hari. Trump menyebut kemajuan perundingan damai yang melibatkan Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah menjadi alasan utama penundaan operasi militer.
Yang menarik, laporan CNN menyebut adanya peran langsung tokoh kunci kawasan. Secara diam-diam, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) disebut telah menghubungi Trump untuk meminta pembatalan serangan terhadap Iran.
Keterlibatan Arab Saudi menjadi sinyal penting. Sebagai negara yang kerap berseberangan dengan Iran di berbagai medan konflik regional, permintaan Riyadh menunjukkan adanya perhitungan politik baru di kawasan. Arab Saudi tampaknya menilai stabilitas Selat Hormuz dan pengendalian eskalasi lebih menguntungkan dibandingkan konfrontasi terbuka.
Keputusan Trump ini menyisakan sejumlah pertanyaan besar. Pertama, sejauh mana komitmen Iran untuk menepati kerangka kesepakatan awal tersebut. Kedua, bagaimana mekanisme verifikasi atas pembukaan Selat Hormuz dan penghentian program nuklir yang akan disepakati.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran mengenai klaim Trump tersebut. Begitu pula detail jadwal negosiasi lanjutan yang akan menentukan apakah kerangka awal ini bisa menjadi kesepakatan final atau justru berujung pada batalnya perundingan.
Yang jelas, keputusan ini meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sempat memanas dalam beberapa pekan terakhir. Pasar energi global pun diproyeksikan merespons positif atas berkurangnya ancaman gangguan pasokan minyak dari Selat Hormuz.