PALEMBANG — Dua wilayah utama di Sumatera Selatan, yakni Kota Palembang dan Kota Pagar Alam, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi udara kabur yang diprediksi berlangsung sejak pagi hingga malam nanti. Fenomena berkurangnya jarak pandang ini tercantum dalam informasi prakiraan cuaca resmi yang dirilis BMKG melalui laman bmkg.go.id untuk hari Selasa, 4 Agustus 2026.
Sementara itu, kondisi atmosfer di sebagian besar daerah lain di Sumsel justru diprakirakan cerah hingga berawan dengan peluang hujan yang rendah. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pengendara kendaraan roda dua di kawasan Palembang dan Pagar Alam, diimbau memperlambat laju kendaraan dan menyalakan lampu utama saat melewati titik-titik berkabut.
Berdasarkan data BMKG, udara kabur yang dimaksud merupakan kondisi atmosfer dengan jarak pandang horizontal yang berkurang akibat partikel uap air di lapisan dekat permukaan. Kondisi ini umumnya terjadi pada pagi hari akibat pendinginan permukaan yang maksimal, namun di wilayah Sumsel kali ini diprakirakan bertahan hingga siang dan sore.
Untuk Kota Palembang, suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 24 hingga 33 derajat Celsius. Sementara itu, Pagar Alam yang berada di dataran tinggi juga mengalami fenomena serupa dengan tingkat kelembaban yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan lainnya.
Di tengah peringatan kabut tersebut, dua kabupaten lain justru diprediksi menikmati kondisi langit yang lebih bersahabat. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) diprakirakan mengalami cuaca berawan sepanjang hari dengan suhu berkisar 24 hingga 33 derajat Celsius. Tingkat kelembaban udara di wilayah ini berada di rentang 54 hingga 92 persen.
Berbeda dengan OKU, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) justru diprediksi cerah dengan suhu yang hampir identik, yakni 24 hingga 33 derajat Celsius. Namun, kelembaban udara di OKI tercatat lebih tinggi, berada pada kisaran 50 hingga 96 persen, yang berpotensi membuat udara terasa lebih panas dan gerah saat siang hari.
Secara meteorologis, munculnya udara kabur di Palembang dan Pagar Alam pada awal Agustus ini dipengaruhi oleh kondisi udara yang relatif kering dan minimnya tutupan awan pada malam hari. Radiasi panas bumi yang dilepas ke atmosfer membuat suhu permukaan turun drastis, sehingga uap air di udara mengalami kondensasi dan membentuk kabut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada, terutama bagi nelayan atau operator transportasi sungai di Palembang yang kerap beraktivitas di aliran Sungai Musi. "Jarak pandang yang berkurang akibat kabut dapat mengganggu navigasi, baik di darat maupun di perairan," demikian peringatan yang disampaikan dalam laman resmi BMKG.
Untuk perkembangan informasi cuaca terkini, masyarakat Sumatera Selatan dapat memantau pembaruan data melalui kanal resmi BMKG atau aplikasi infoBMKG yang tersedia untuk perangkat Android dan iOS.