SUMATERA SELATAN — Keputusan ini tertuang dalam surat nomor RC-0995/PEF-DIR/VII/2026 dan RC-0966/PEF-DIR/VII/2026, berlaku sejak 30 Juli hingga 30 Oktober 2026. Peringkat "Credit Watch" mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut masih terbuka lebar dalam periode evaluasi tiga bulan ke depan.
Selain peringkat korporasi, PEFINDO juga menurunkan peringkat dua obligasi ADHI dari idA- menjadi idBB. Keduanya adalah Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Seri B dan Seri C Tahun 2022 serta Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2024.
Pemicu utama aksi ini adalah niat perseroan untuk menunda pembayaran kupon obligasi. Langkah tersebut diakui manajemen sebagai fakta material yang mengubah profil risiko perusahaan secara signifikan di mata pemeringkat.
"Perubahan peringkat tersebut diterbitkan sehubungan dengan adanya fakta material berupa rencana perseroan untuk menunda pembayaran Obligasi Berkelanjutan III dan Obligasi Berkelanjutan IV," ujar Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko & Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, Rabu (5/8/2026).
Penurunan peringkat ini menegaskan bahwa kemampuan ADHI memenuhi kewajiban keuangan tepat waktu kini berada di bawah tekanan. PEFINDO menilai likuiditas perusahaan tengah terkikis secara material, sehingga ruang fiskal untuk membayar utang menjadi sangat terbatas.
Sebagai kontraktor pelat merah, ADHI selama ini mengandalkan arus kas dari proyek-proyek pemerintah. Namun, pola pembayaran yang kerap tertunda dari pemilik proyek menjadi beban berat di tengah kebutuhan modal kerja yang tinggi untuk proyek infrastruktur.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya beban bunga utang yang harus ditanggung. Ketika pendapatan dari proyek baru belum masuk sementara kewajiban bunga jatuh tempo, opsi menunda pembayaran menjadi jalan keluar yang dipilih manajemen, meski berisiko memicu aksi negatif dari pemeringkat.
Keputusan ADHI menunda kupon ini juga menjadi sinyal buruk bagi sentimen investor terhadap emiten konstruksi lain. Pasar obligasi cenderung meminta yield lebih tinggi untuk kompensasi risiko, yang pada akhirnya menaikkan biaya pendanaan korporasi sektor infrastruktur secara keseluruhan.
Manajemen ADHI belum merinci skema restrukturisasi atau jadwal baru pembayaran kupon kepada pemegang obligasi. Namun, komunikasi dengan kreditur dan investor menjadi langkah krusial untuk meredam gejolak kepercayaan pasar.
Selama periode Credit Watch berlangsung hingga akhir Oktober 2026, ADHI dituntut menunjukkan perbaikan arus kas atau mendapatkan kepastian pendanaan baru untuk mengembalikan keyakinan PEFINDO. Jika tidak, bukan tidak mungkin peringkat emiten kembali dipangkas lebih dalam ke level spekulatif yang lebih rendah.
Investasi pada instrumen utang mengandung risiko. Pemegang obligasi ADHI disarankan mencermati perkembangan restrukturisasi dan kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.