PALEMBANG — Momentum Car Free Day (CFD) di bawah Jembatan Ampera berubah menjadi panggung kritik sosial. Sekelompok aktivis lingkungan dari Rawang ID memanfaatkan ruang publik yang padat pengunjung itu untuk menyampaikan pesan tentang kualitas udara yang belum layak, Minggu (9/8/2026).
Alih-alih membawa spanduk besar dan berorasi dengan pengeras suara, mereka memilih pendekatan yang lebih cair. Aksi teatrikal dan instalasi visual sederhana dipilih agar pesan tentang bahaya asap lebih mudah dicerna oleh masyarakat yang tengah berolahraga atau bersantai di akhir pekan.
Koordinator aksi, Bung Zelvan, menegaskan bahwa metode ini sengaja dipilih untuk mendekatkan isu lingkungan kepada publik. Menurutnya, persoalan asap kerap dianggap sebagai fenomena musiman, padahal dampaknya menyentuh hak dasar warga.
“Kami datang bukan sekadar membawa tuntutan, tetapi membawa pesan. Aksi kreatif ini adalah cara kami mengingatkan bahwa persoalan asap dan kualitas udara bukan persoalan kecil yang bisa dianggap biasa,” ujar Zelvan di lokasi.
Pemilihan waktu aksi tepat di pekan menjelang 17 Agustus bukan tanpa perhitungan. Bagi Rawang ID, perayaan kemerdekaan menjadi momen refleksi untuk memaknai arti kebebasan secara lebih luas.
“Kita akan merayakan kemerdekaan, tetapi apakah kita benar-benar sudah merdeka? Merdeka seharusnya bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari udara yang tercemar, bebas dari ancaman asap, dan bebas dari lingkungan yang membahayakan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Zelvan menyoroti pola penanganan karhutla yang selama ini cenderung reaktif. Ia menilai pemerintah baru bergerak ketika kabut asap sudah tebal dan korban berjatuhan, sementara upaya pencegahan di hulu kerap kurang mendapat perhatian.
“Jangan sampai setiap kali asap datang, kita hanya sibuk mencari siapa yang salah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pemerintah memastikan persoalan ini tidak terus berulang. Masyarakat membutuhkan solusi, bukan sekadar respons ketika masalah sudah terjadi,” katanya.
Ia mendesak adanya penguatan pengawasan terhadap sumber-sumber pencemaran serta penegakan hukum yang konsisten terhadap pihak yang terbukti merusak lingkungan. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi harus dipastikan berjalan, bukan hanya di atas kertas.
Dalam aksinya, Rawang ID juga menyoroti dilema antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan di Sumatera Selatan. Mereka menegaskan tidak anti terhadap investasi, namun menolak praktik pembangunan yang mengorbankan keselamatan warga.
“Kami tidak anti-investasi dan tidak anti-pembangunan. Yang kami persoalkan adalah ketika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan lingkungan dan masyarakat. Ekonomi boleh tumbuh, tetapi udara bersih dan keselamatan manusia tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar,” tegas Zelvan.
Lokasi Jembatan Ampera dan area CFD dipilih karena menjadi titik pertemuan berbagai lapisan masyarakat. Ruang publik ini dinilai efektif untuk menyampaikan pesan lingkungan secara humanis dan langsung, tanpa sekat.
Bagi Rawang ID, isu udara bersih bukan domain eksklusif para pegiat lingkungan. Ini adalah kepentingan kolektif yang menyangkut masa depan generasi penerus.
“Anak-anak kita berhak tumbuh dengan menghirup udara yang bersih. Mereka berhak menikmati lingkungan yang sehat. Jangan wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya pembangunan, tetapi juga persoalan lingkungan yang tidak pernah selesai,” pungkas Zelvan. (AM)