PALEMBANG — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat luas karhutla di Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare hingga Juli 2026. Berdasarkan analisis citra satelit kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagian besar titik api berada di lahan mineral seluas 1.857,7 hektare, sementara 68,5 hektare lainnya merupakan lahan gambut.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kemenhut, Ferdian Krisnanto, menyebut lonjakan terjadi sangat signifikan dalam sebulan terakhir. "Ini menjadi warning penting. Peningkatan signifikan dan ancaman ke depan dapat terjadi seiring dengan puncak musim kemarau yang terjadi Agustus-September," ujarnya di Palembang, Jumat.
Kabupaten Ogan Komering Ulu mencatatkan luasan karhutla tertinggi dengan total 516 hektare. Disusul Banyuasin seluas 274,4 hektare yang terdiri atas 256,9 hektare lahan mineral dan 17,5 hektare lahan gambut.
Ogan Ilir berada di posisi berikutnya dengan 272,5 hektare, kemudian Ogan Komering Ilir (OKI) seluas 230,3 hektare. Musi Banyuasin (Muba) mencatat 228 hektare dengan 29,1 hektare di antaranya merupakan lahan gambut, dan Muara Enim 141,9 hektare.
Sebaran karhutla juga tercatat di Musi Rawas Utara (Muratara) seluas 111,9 hektare dengan 19,9 hektare di lahan gambut. Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) memiliki 57,4 hektare dengan dua hektare di gambut, menyusul OKU Selatan 55,2 hektare dan OKU Timur 23,2 hektare.
Wilayah perkotaan mencatat angka relatif kecil, yakni Prabumulih 7,3 hektare, Lahat 6 hektare, Palembang 1,5 hektare, dan Musi Rawas 0,6 hektare. Sementara Lubuklinggau, Pagar Alam, dan Empat Lawang tercatat nihil luasan karhutla.
Luasan karhutla hingga Juli 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2023-2025. Pada 2023, luasan karhutla mencapai 1.178,5 hektare, kemudian turun menjadi 963,1 hektare pada 2024, dan meningkat kembali menjadi 1.382,4 hektare pada 2025.
Meski begitu, angka tahun ini masih lebih rendah dibandingkan 2022 yang mencatat luasan karhutla mencapai 2.445,7 hektare pada periode yang sama.
Ferdian menjelaskan kondisi di lapangan semakin menyulitkan upaya pemadaman. Ketersediaan air mulai menipis, sementara operasi modifikasi cuaca (OMC) belum berjalan sesuai target karena minimnya awan potensial selama musim kemarau.
Pencegahan dan penanganan karhutla perlu terus diperkuat, terutama menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus-September. Hal ini dinilai krusial untuk mencegah kebakaran meluas serta mengurangi dampak asap terhadap masyarakat di Sumatera Selatan.