SUMATERA SELATAN — Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi dibuka melemah 0,01 persen ke posisi Rp 17.864 per dolar AS. Level tersebut turun 2 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.862 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi meskipun sejumlah mata uang utama Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS pada sesi pagi ini. Data pergerakan menunjukkan sentimen pelaku pasar terhadap mata uang regional masih terbelah di tengah dinamika ekonomi global.
Dari kawasan Asia, won Korea Selatan mencatatkan penguatan paling signifikan dengan apresiasi 0,39 persen. Yuan China juga berada di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,01 persen, diikuti yen Jepang yang menguat 0,10 persen.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,12 persen. Dolar Singapura juga tak luput dari tekanan dengan melemah 0,01 persen terhadap greenback.
Pergerakan rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp 17.800-an mengindikasikan tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda. Meski pelemahan hanya tipis, posisi kurs yang bertahan di level tinggi tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Fluktuasi nilai tukar yang terjadi pagi ini mencerminkan pasar yang masih mencermati arah kebijakan moneter global serta fundamental ekonomi domestik. Para pelaku pasar tampaknya masih menunggu katalis baru untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Kondisi ini membuat pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada sentimen eksternal, terutama pergerakan dolar AS di pasar global serta data ekonomi yang akan dirilis berbagai negara.