Google dan Inggris Uji AI untuk Kurangi Jejak Kontrail Pesawat demi Iklim

Penulis: Syaiful Bahri  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:16:31 WIB
Pesawat uji coba Operation Blue Skies akan dialihkan rutenya di wilayah udara Shanwick untuk mengurangi pembentukan kontrail.

SUMATERA SELATAN — Google dan pemerintah Inggris mengumumkan kolaborasi untuk menguji apakah pesawat dapat menghindari penciptaan kontrail, garis putih panjang yang ditinggalkan mesin jet di langit. Proyek bernama Operation Blue Skies ini akan melakukan uji coba di wilayah udara Shanwick yang membentang di atas timur laut Samudra Atlantik.

Mengapa Kontrail Jadi Masalah Iklim?

Kontrail terbentuk saat uap air mengembun dan membeku di sekitar gas buang pesawat, paling sering terjadi di udara dingin dan lembap. Masalahnya, awan buatan ini dapat memerangkap panas yang dipancarkan bumi, sehingga menghangatkan atmosfer.

Para peneliti memperkirakan kontrail berkontribusi sekitar sepertiga dari total dampak iklim industri penerbangan. Perlu ditegaskan, kontrail yang efeknya telah diukur para ilmuwan ini berbeda jauh dengan mitos chemtrails yang kerap disebar di media sosial.

Bagaimana Mekanisme Uji Coba Operation Blue Skies?

Uji coba akan berlangsung selama 30 bulan dengan membuat penyesuaian kecil pada jalur penerbangan sejumlah pesawat, tanpa mengganggu operasional normal. Percobaan ini dijadwalkan berlangsung selama dua musim dingin ke depan.

Pengontrol lalu lintas udara akan menggunakan prakiraan cuaca untuk mengidentifikasi wilayah atmosfer di mana penyesuaian vertikal hingga 2.000 kaki berpotensi mengurangi pembentukan kontrail. Dari sekitar 10.000 penerbangan yang melintasi wilayah tersebut setiap tahunnya selama periode uji, hanya satu hingga lima persen yang akan dialihkan rutenya.

Riset sebelumnya dan uji coba skala kecil menunjukkan bahwa prakiraan berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu mengidentifikasi area atmosfer di mana penerbangan paling berpotensi menciptakan kontrail yang menghangatkan bumi.

Peran Google dan Mitra Lainnya

Google menyediakan model prakiraan bertenaga AI untuk memetakan wilayah rawan kontrail, serta memanfaatkan citra satelit dan machine learning untuk mengukur hasil uji coba. Perusahaan menyatakan berpartisipasi secara pro bono dengan menyumbang dana sebesar £1,4 juta (sekitar Rp 38 miliar).

Pemerintah Inggris menanggung lebih dari separuh anggaran proyek yang totalnya mencapai £5 juta (sekitar Rp 135 miliar). Sementara itu, NATS sebagai penyedia layanan navigasi udara Inggris akan menangani sisi operasional. Proyek ini juga melibatkan Contrails.org, Met Office, Imperial College London, dan University of Cambridge.

Hasil uji coba ini nantinya akan menjadi data penting bagi industri penerbangan global, termasuk maskapai yang melayani rute internasional dari Indonesia, untuk menekan jejak karbon tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top