Ratusan Guru Al-Fahd Palembang Dibekali Strategi Digital dan Etika Media Sosial untuk Jaga Marwah Sekolah

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:09:31 WIB
Ratusan pendidik di lingkungan Yayasan Islam Al-Fahd Palembang mengikuti pelatihan strategi digital dan etika media sosial.

PALEMBANG — Yayasan Islam Al-Fahd menggandeng Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Selatan, Dr Firdaus Komar MSi, untuk memberikan materi pengelolaan media sosial, budaya organisasi, hingga strategi membangun kepercayaan internal. Pelatihan yang diikuti ratusan pendidik ini juga menyoroti pemahaman ekosistem media di era digital.

Pemilik Yayasan Islam Al-Fahd, Abuya, dalam sambutannya menegaskan bahwa kemampuan komunikasi dan literasi media sosial kini menjadi kompetensi wajib bagi tenaga pendidik. Hal ini dinilai krusial, terutama dalam manajemen krisis yang berpotensi memengaruhi reputasi lembaga pendidikan.

Lima Langkah Strategis Menjaga Kepercayaan Publik

Firdaus Komar, yang akrab disapa Firko, menyebut setiap peristiwa di lingkungan sekolah perlu dikelola dengan baik, terlebih bila berkembang menjadi isu publik. Menurutnya, marwah sekolah tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga integritas guru, perilaku siswa, budaya sekolah, dan cara komunikasi di ruang publik.

"Menjaga marwah lembaga pendidikan berarti menjaga kehormatan, kepercayaan, nilai, dan citra sekolah di mata peserta didik, orang tua, masyarakat, maupun pemerintah," ujarnya di hadapan para peserta.

Ia merumuskan lima langkah strategis yang perlu dijalankan sekolah untuk menjaga marwah dan kepercayaan publik:

  • Membangun budaya organisasi yang sehat dan transparan di internal yayasan.
  • Mengelola media sosial secara profesional sebagai kanal komunikasi publik.
  • Memetakan potensi krisis sejak dini dan menyiapkan protokol penanganan.
  • Memperkuat integritas guru dan tenaga kependidikan sebagai garda terdepan.
  • Membangun komunikasi yang adaptif dengan orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Mengapa Literasi Digital Menjadi Prioritas Sekarang?

Pelatihan ini hadir di tengah meningkatnya risiko pencemaran nama baik institusi pendidikan akibat penyebaran informasi yang tidak terkontrol di media sosial. Guru dan ustaz dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi filter informasi bagi siswa dan wali murid.

Abuya berharap materi yang diberikan dapat langsung diterapkan di masing-masing unit sekolah. Ia menekankan bahwa persoalan yang muncul di lingkungan pendidikan kerap kali berawal dari miskomunikasi yang kemudian meluas di ruang digital.

Dengan pembekalan ini, Yayasan Islam Al-Fahd berupaya memastikan seluruh jenjang pendidikan di bawah naungannya memiliki standar komunikasi publik yang sama. Langkah ini sekaligus menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: poskita.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top