Desil 6-7 Disarankan Mulai Investasi, Ini Pilihan Instrumen yang Cocok

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:39:31 WIB
Perencana keuangan menyarankan kelompok desil 6-7 memulai investasi dengan instrumen berisiko rendah hingga moderat seperti deposito dan SBN ritel.

SUMATERA SELATAN — Wacana pembatasan BBM bersubsidi membuat publik ramai mengecek status ekonomi rumah tangga melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pengelompokan dari desil 1 hingga 10 ini ternyata juga bisa menjadi acuan awal untuk menentukan strategi investasi yang sesuai kemampuan finansial.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan, secara teoritis dana dingin untuk investasi baru bisa disisihkan ketika rumah tangga masuk kategori ekonomi menengah, yakni desil 6 dan 7. Pada level ini kebutuhan pokok harian dinilai sudah terpenuhi sehingga menyisakan ruang napas finansial.

Rekomendasi Instrumen untuk Desil 6-7

Andi menyarankan kelompok desil 6 dan 7 memilih produk dengan profil risiko rendah hingga moderat. Alasannya, sisa dana yang dimiliki kelompok ini biasanya belum terlalu besar dan rentan terpakai untuk kebutuhan tak terduga.

"Untuk desil 6-7 bisa memilih deposito, logam mulia, SBN ritel, atau reksa dana. Sementara untuk desil 8-10 bisa pilih yang risikonya lebih tinggi dan waktu investasi lebih panjang seperti reksa dana berbasis campuran atau saham, atau pasar saham langsung," jelas Andi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/8).

Senada dengan Andi, Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari menilai produk ritel dengan nilai relatif stabil menjadi opsi paling aman bagi kalangan menengah ke bawah. "Bagi menengah bawah akan cocok dengan produk yang ritel dan juga stabil seperti tabungan emas dan reksa dana pasar uang ataupun pendapatan tetap," tuturnya.

Desil 8-10 Bisa Lirik Instrumen Berisiko Tinggi

Bagi kelompok desil 8-10 yang memiliki fondasi keuangan kokoh dan pemahaman pasar modal, Tejasari mendorong untuk melirik instrumen berisiko tinggi demi mengoptimalkan imbal hasil. Instrumen dengan volatilitas tinggi seperti pasar komoditas hingga aset kripto juga bisa dipertimbangkan kelompok ini.

"Sementara menengah atas yang cukup stabil dan memiliki pengetahuan cukup, bisa berinvestasi ke produk-produk yang memiliki risiko lebih tinggi seperti saham ataupun reksa dana saham," imbuh Tejasari.

Kendati demikian, Tejasari mengakui realitas di lapangan menunjukkan kelompok menengahlah yang paling mampu menyisihkan uang secara konsisten. "Pada kenyataannya kalangan menengah lah yang bisa menyisihkan secara rutin setiap bulannya, baik menengah bawah maupun atas," ujarnya.

Strategi Cost Averaging dan Diversifikasi

Mengenai strategi berinvestasi, Andi menyarankan masyarakat untuk tidak langsung menaruh modal sekaligus. Metode cost averaging alias mencicil secara berkala dinilai lebih efektif untuk meminimalisir risiko sekaligus mengoptimalkan keuntungan.

"Bisa dengan cara cost averaging di mana kita berinvestasi sedikit demi sedikit secara berkala. Tujuannya selain untuk meminimalisir risiko, juga untuk mengoptimalkan keuntungan. Selain itu sebaiknya juga melakukan diversifikasi investasi," papar Andi.

Durasi Investasi Disesuaikan Tujuan Finansial

Tejasari menegaskan jangka waktu berinvestasi harus dikunci berdasarkan tujuan keuangan masing-masing. Untuk kebutuhan jangka pendek atau dana darurat, instrumen yang sangat likuid dan aman menjadi prioritas utama.

"Seperti dana darurat, jangka pendek, maka pilih produk yang likuid dan aman seperti tabungan emas dan reksa dana pasar uang," jelas Tejasari.

Sementara untuk kebutuhan jangka menengah hingga panjang seperti dana pendidikan anak, instrumen seperti reksa dana pendapatan tetap dinilai lebih cocok. Untuk dana pensiun, Tejasari menyarankan mulai berinvestasi di saham yang memiliki fundamental kuat jika sudah memahami instrumen tersebut.

"Untuk dana pensiun, apabila sudah mampu memahami tentang saham, bisa mulai berinvestasi di saham yang memiliki fundamental kuat," ujar Tejasari.

Investasi mengandung risiko. Selalu pahami profil risiko dan tujuan keuangan sebelum memilih instrumen.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top