PALEMBANG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Selatan menyimpan fungsi sosial yang mendalam. Kegiatan yang diisi pembacaan selawat, ceramah, doa bersama, hingga makan bersama ini dinilai mampu menciptakan interaksi dan rasa saling memiliki di antara warga, melampaui sekadar dimensi ibadah individu.
Hal itu mengemuka dalam pandangan akademisi UIN Raden Fatah Palembang, Dra. Anisatul Mardiah, M.Ag, Ph.D. Menurutnya, peringatan Maulid merupakan fenomena sosial keagamaan yang efektif memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Menjelang pelaksanaan Maulid, masyarakat biasanya terlibat dalam berbagai persiapan. Mulai dari membersihkan tempat kegiatan, menyiapkan makanan, mengatur tempat duduk, hingga mengumpulkan kebutuhan acara.
Proses kerja bersama ini dinilai menjadi fondasi penting tumbuhnya solidaritas. Orang dengan latar belakang pekerjaan, tingkat ekonomi, dan usia berbeda mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing tanpa memandang status sosial.
"Proses bekerja bersama inilah yang membangun rasa saling membutuhkan dan memperkuat hubungan sosial," kata Anisatul, yang juga menekankan pentingnya tradisi berbagi makanan sebagai perekat kebersamaan.
Anisatul merujuk pada pemikiran sosiolog Emile Durkheim yang menyebut kegiatan keagamaan mampu memperkuat ikatan sosial karena individu berkumpul dan mengalami pengalaman bersama. Dalam konteks Maulid, suasana itu tampak ketika jamaah bersama-sama membaca selawat dan berdoa.
Pengalaman emosional dan semangat bersama yang muncul dalam ritual tersebut, atau yang dikenal sebagai collective effervescence, membuat individu merasa menjadi bagian dari komunitas Muslim yang lebih besar.
Lebih dari itu, Maulid menjadi sarana pewarisan nilai sosial dan keagamaan kepada generasi muda. Melalui ceramah dan kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, pesan tentang kejujuran, kasih sayang, kepedulian, keadilan, dan persaudaraan diteruskan secara turun-temurun.
Sebagai ruang pertemuan antargenerasi, Maulid memastikan tradisi dan nilai keagamaan tidak putus. Kegiatan ini menjadi praktik keagamaan kolektif yang mempertemukan warga dalam waktu dan tempat yang sama untuk aktivitas bermakna religius.
Menurut Anisatul, dalam konteks sosiologi agama, Maulid bukan hanya tentang keyakinan individu kepada Tuhan, tetapi juga menghasilkan norma, simbol, dan praktik sosial yang memperkuat solidaritas kelompok. Hal ini menjadikan peringatan Maulid sebagai agenda penting yang merawat kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat Sumatera Selatan.