SUMATERA SELATAN — Program bayi tabung (IVF) menuntut kesiapan fisik, mental, dan finansial. Ketika embrio berkualitas baik tetap gagal menempel, kebingungan dan frustrasi pasti melanda. Inilah yang dialami Ananya (35) dan Aswin (36), pasangan asal Bengaluru, India, yang telah delapan tahun menanti kehadiran buah hati.
Tiga siklus IVF di klinik sebelumnya berakhir dengan hasil negatif. Mereka bahkan sempat disarankan menggunakan sel telur atau sperma donor. Alih-alih mengikuti saran itu, pasangan ini memilih mencari opini kedua dari Dr. Rubina Pandit, spesialis fertilitas di Bengaluru. Keputusan itu menjadi titik balik.
Pemeriksaan awal menunjukkan kadar AMH Ananya normal. Namun, analisis sperma Aswin mengungkap nilai DNA fragmentation index (DFI) yang tinggi. Kondisi ini menandakan kerusakan DNA pada sperma, yang bisa menjadi biang keladi kegagalan implantasi.
Pada siklus berikutnya, dokter tetap menggunakan sel telur dan sperma mereka sendiri. Hanya saja, pemilihan sperma dilakukan lebih selektif menggunakan teknik PICSI dan microfluidics sebelum ICSI. Hasilnya, empat embrio berkualitas baik berhasil terbentuk.
Keempat embrio itu lalu menjalani tes genetik preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk memeriksa kelainan jumlah kromosom. Hasilnya normal semua. Di titik ini, dokter semakin yakin ada faktor lain di luar kualitas embrio yang menyebabkan kegagalan sebelumnya.
Evaluasi lebih lanjut pada rahim dan saluran tuba menemukan kejanggalan. Pemeriksaan USG menunjukkan adanya cairan di rongga rahim yang tak kunjung hilang meski sudah diobati. Untuk memastikan penyebabnya, tim medis melakukan prosedur histeroskopi dan laparoskopi.
Hasilnya, saluran tuba Ananya ternyata rusak dan berisi cairan, kondisi yang dikenal sebagai hydrosalpinx. Cairan dari saluran tuba yang meradang ini bisa menjadi racun bagi embrio dan mencegahnya menempel di dinding rahim. Dokter kemudian memisahkan saluran tuba tersebut agar cairannya tidak lagi mengalir ke rongga rahim. Setelah prosedur, cairan di rongga rahim sudah tidak terlihat lagi.
Setelah masalah saluran tuba beres dan embrio dinyatakan normal, dokter masih melakukan satu pemeriksaan lagi. Mereka menjalani endometrial receptivity assay (ERA) untuk mencari tahu kapan waktu paling tepat bagi rahim menerima embrio.
Hasilnya mengejutkan: rahim Ananya baru mencapai kondisi reseptif satu hari lebih lambat dari jadwal transfer standar. Dokter pun menyesuaikan waktu transfer embrio berdasarkan temuan ini. Perjuangan panjang mereka akhirnya berbuah manis. Ananya berhasil hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Sisa embrio beku mereka pun masih tersimpan untuk rencana kehamilan berikutnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa kegagalan IVF tidak selalu berarti embrio bermasalah. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhinya, mulai dari kondisi rahim, saluran tuba, kualitas sperma, hingga kesiapan endometrium. Kombinasi beberapa faktor sekaligus juga bisa terjadi, seperti yang dialami pasangan ini.
Jika kamu atau orang terdekat sedang menjalani program bayi tabung dan mengalami kegagalan berulang, jangan ragu untuk mencari opini kedua dari dokter spesialis fertilitas lain. Pemeriksaan yang lebih menyeluruh, termasuk pada sperma dan kondisi saluran tuba, bisa membuka jalan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.