PALEMBANG - Pasar 16 Ilir berdiri sebagai salah satu pasar tradisional terbesar sekaligus tertua di Palembang, menjadi pusat ekonomi sekaligus ruang interaksi warga. Kawasan ini bukan sekadar tempat transaksi; ia menyimpan jejak perdagangan yang membentang lama.
Berdiri di Kelurahan 16 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, keberadaan Pasar 16 Ilir disebut Pemerintah Kecamatan setempat berkaitan dengan sejarah perdagangan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Los-los pasar mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar 1939, menurut catatan pemerintah daerah.
Keistimewaan Pasar 16 Ilir terletak pada posisinya di tepian Sungai Musi. Pemandangan ke arah Jembatan Ampera menjadi latar aktivitas jual-beli yang berlangsung setiap hari. Kawasan ini mempertemukan ekonomi, transportasi sungai, budaya, dan wisata dalam satu titik.
Dinas Perhubungan Sumatera Selatan mencatat lokasi ini sebagai salah satu titik pelabuhan atau dermaga, dengan koordinat sekitar -2,961787 dan 104,747048. Artinya, akses sungai bukan sekadar sejarah, tetapi relevan secara praktis hingga kini.
Barang yang dijual cukup beragam, mulai dari pakaian, kain songket dan jumputan, tas, sepatu, hingga perhiasan. Kawasan ini menjadi rujukan bagi warga Palembang maupun pendatang yang mencari kebutuhan fashion dengan pilihan banyak.
Songket menjadi salah satu alasan orang datang ke pasar ini. Kualitas perlu diperiksa langsung: jenis bahan, teknik pembuatan, kepadatan motif, detail benang, hingga kondisi bagian belakang kain. Jangan hanya terpaku pada kilau benang.
Jumputan bisa jadi pilihan yang lebih ekonomis namun tetap menarik, baik untuk pakaian, aksesori, maupun oleh-oleh.
Bagi pembeli yang baru pertama kali datang, beberapa tips penting: survei harga sebelum memutuskan membeli, menawar secara wajar karena itu bagian dari budaya pasar, periksa kualitas barang seperti jahitan dan resleting sebelum membayar, serta bawa uang pecahan untuk mempercepat transaksi.
Istilah "terbesar" sebaiknya dipahami berdasarkan jenis pasarnya. Pasar 16 Ilir unggul sebagai pusat perdagangan barang beragam. Sementara untuk komoditas pangan skala grosir, Pasar Induk Jakabaring memegang peran, dengan kapasitas sekitar 800 ton per hari dan melibatkan hingga 4.000 orang, fokus pada distribusi sayur dan buah untuk Palembang dan sekitarnya.
Pemerintah Kota Palembang pernah merencanakan revitalisasi Pasar 16 Ilir untuk memperbaiki sarana-prasarana dan mengembangkan kawasan dengan konsep waterfront, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya. Tanpa menjaga karakter pasar tradisional, transformasi fisik bisa menghilangkan identitas yang terbentuk selama puluhan tahun.
Karena kondisi lapangan bisa berubah, disarankan mengecek informasi lokal pada hari kunjungan, terutama soal akses toko dan penataan pedagang.
Untuk pemula yang baru mulai mengoleksi songket: periksa motif dan pengerjaan dengan mengamati kerapian pola, tanyakan bahan dengan jelas agar perbandingan harga adil, tentukan fungsi apakah untuk pakaian atau koleksi, serta jangan buru-buru karena survei beberapa penjual memberi gambaran harga terbaik.
Pasar 16 Ilir bukan sekadar tempat belanja. Ia adalah kawasan tempat sejarah, sungai, kain, dan aktivitas ekonomi kota bertemu, layak dikunjungi siapa pun yang ingin merasakan Palembang yang sesungguhnya.