Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan per 30 Agustus 2026 tersisa 67,06 hektare setelah tim gabungan berhasil memadamkan 18,36 hektare. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area terbakar di provinsi itu secara konsisten menurun hingga lebih dari 88 persen sejak 2023.
PALEMBANG — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada 30 Agustus 2026 tersisa 67,06 hektare. Angka ini menyusut drastis setelah tim gabungan memadamkan 18,36 hektare lahan yang terbakar, dan kini fokus pada proses pendinginan di sisa area seluas 48,7 hektare.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan tren penurunan luas area terbakar di Sumsel konsisten terjadi dalam tiga tahun terakhir.
"Penanganan karhutla di Sumsel dalam tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan luas area terbakar yang signifikan hingga lebih dari 88 persen," kata dia dalam keterangan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa.Angka Penurunan dalam Tiga Tahun
Berton SP Panjaitan memaparkan luas area terbakar di Sumatera Selatan tercatat 264.165,68 hektare pada 2023, menyusut menjadi 30.844,96 hektare pada 2024, dan kembali berkurang menjadi 11.879,56 hektare pada 2025.
Capaian ini disebutnya berkat efektivitas sistem peringatan dini, respons cepat Satgas, serta kolaborasi lintas sektor di lapangan.
Sisa Titik Api di Lahan Gambut Tebal
Memasuki puncak musim kemarau dan fenomena El Nino 2026, BNPB bersama Satgas Karhutla Sumsel mengintensifkan operasi darat dan udara. Proses pendinginan saat ini diprioritaskan di wilayah gambut tebal seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).
Sebanyak 11.567 personel gabungan disiagakan untuk menangani karhutla. BNPB juga menyalurkan bantuan sarana operasional ke tujuh BPBD kabupaten/kota serta mengerahkan sembilan unit armada udara untuk patroli, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Waspada Kualitas Udara di Palembang
Meski situasi karhutla secara umum terkendali, BNPB mengimbau warga mewaspadai penurunan kualitas udara akibat asap di Kota Palembang. Stasiun pemantau kualitas udara pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU/AQI) di angka 247 atau kategori sangat tidak sehat.
Masyarakat diminta menggunakan masker medis saat beraktivitas di luar rumah dan tidak membakar lahan. "Imbas penumpukan asap sempat memicu penurunan kualitas udara," cetus Berton SP Panjaitan.