PALEMBANG — Nilai tukar rupiah yang terus ambrol terhadap dolar Amerika Serikat pada pekan lalu tidak hanya mengguncang bursa saham nasional, tetapi juga mengirim gelombang kejut ke sektor riil Sumatera Selatan. Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumsel, Hari Mulyono, menyebut pelemahan ini memicu investor global untuk menarik dananya dari aset berdenominasi rupiah dan beralih ke dolar AS yang dianggap lebih aman.
Menurut Hari, kondisi ini memicu arus keluar modal asing atau capital outflow dari negara berkembang seperti Indonesia. "Akibatnya (rupiah tumbang) berdampak dan memengaruhi pasar saham Indonesia perlahan anjlok. Nilai ini (pelemahan nilai tukar rupiah) lebih tinggi dari perkiraan pasar," ujarnya.
Ia menjelaskan, jika bank sentral AS menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi, maka imbal hasil aset dolar akan semakin menarik. "Karena pelemahan pasar terjadi, maka inflasi meningkat dan membuat pelaku pasar terancam merugi," tambah Hari.
Di sisi lain, Kepala Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono, memproyeksikan tekanan inflasi yang signifikan pada bulan ini. Selain efek pelemahan rupiah, ada dua faktor lain yang mendorong kenaikan harga: tarif angkutan udara yang terdongkrak oleh harga avtur global dan awal musim kemarau yang mengganggu pasokan hortikultura.
"Terutama ada potensi kenaikan tinggi dari komoditas cabai dan bawang," kata Bambang. Kombinasi antara biaya logistik yang membengkak dan produksi yang menurun diprakirakan akan menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah di Sumsel.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, mengungkapkan bahwa sektor karet menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung pelemahan rupiah. Lonjakan harga minyak dunia ikut mengerek harga bahan baku penolong, terutama plastik untuk proses produksi, sementara biaya operasional pabrik ikut melonjak.
"Walaupun harga karet alam dunia naik, situasi ini belum sepenuhnya menguntungkan produsen karena biaya ikut melonjak," kata Alex. Ia pesimistis pendapatan bisa menutupi biaya pengolahan yang kini naik lebih dari 10 persen.
Tekanan bahkan sudah terasa sejak dari hulu. Alex menjelaskan bahwa persaingan antar pabrik untuk memperebutkan bahan baku getah karet justru mendorong harga beli di tingkat petani naik. Ironisnya, kenaikan ini tidak sebanding dengan lonjakan biaya produksi yang harus ditanggung petani dan pengusaha.