Rupiah Tembus Rp 17.614 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Guncang Pasar Keuangan

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 15:52:09 WIB
Rupiah melemah ke level Rp 17.614 per dolar AS, rekor terendah sepanjang sejarah.

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5). Mata uang Garuda langsung melemah 84 poin atau merosot 0,48 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya, hingga terjerembap ke level Rp 17.614 per dolar AS.

Angka ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan sebuah rekor baru dalam sejarah keuangan Indonesia. Para pelaku pasar kini menatap layar monitor dengan kewaspadaan tinggi, mengingat posisi ini merupakan level terendah yang pernah dialami rupiah sejak republik ini berdiri.

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengonfirmasi bahwa pergerakan pagi ini telah menciptakan sejarah baru bagi mata uang lokal. Tekanan yang datang dari luar negeri dianggap terlalu kuat untuk dibendung oleh sentimen domestik.

"Iya, level terendah sepanjang sejarah," kata Ariston saat memberikan keterangan resmi.

Mengapa Rupiah Bisa Anjlok Begitu Dalam?

Pelemahan tajam ini tidak terjadi di ruang hampa. Ariston menjelaskan bahwa ada kombinasi sentimen global yang sangat kuat, mulai dari ketegangan geopolitik hingga data ekonomi Amerika Serikat yang tetap solid di tengah ancaman inflasi.

Konflik di Timur Tengah yang kembali memanas telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini secara otomatis memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman (safe haven) bagi para investor global yang ingin menghindari risiko.

"Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini," ujar Ariston.

Data penjualan ritel di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan kenaikan yang sesuai dengan prediksi pasar. Hal ini memberikan sinyal kuat kepada investor bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih sangat tangguh, sehingga peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin tipis.

Dampak Berantai Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Senada dengan Ariston, analis pasar uang Lukman Leong juga mengonfirmasi status rekor terlemah rupiah tersebut. Menurutnya, indeks dolar AS yang terus menguat dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

"Iya, terendah sepanjang sejarah," kata Lukman.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir dipicu oleh data inflasi di sana yang lebih panas dari perkiraan semula. Situasi ini membuat para spekulan yakin bahwa suku bunga tinggi masih akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.

Di sisi lain, pasar juga sedang mengamati dengan saksama pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Meski ada secercah optimisme, investor lebih memilih bermain aman sebelum ada pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan kedua pemimpin negara besar tersebut.

Nasib Serupa Dialami Mata Uang Negara Tetangga

Indonesia tidak sendirian menghadapi gempuran dolar AS. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau memerah, menunjukkan bahwa tekanan ini merupakan fenomena regional yang meluas.

Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen, diikuti oleh baht Thailand yang turun 0,28 persen, dan ringgit Malaysia yang merosot 0,39 persen. Bahkan yen Jepang yang biasanya stabil pun harus rela turun 0,11 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Kondisi ini juga merembet ke negara-negara maju. Poundsterling Inggris melemah 0,28 persen, dolar Australia turun 0,47 persen, dan euro Eropa terkoreksi 0,19 persen. Fenomena "Super Dollar" ini benar-benar sedang menguji ketahanan ekonomi global secara serentak.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top