MUSI RAWAS — Buah pinang yang dulu kerap ditebang warga untuk kayu bakar kini menjadi motor penggerak ekonomi perempuan di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang digagas Suhartini pada 2018 berhasil mengolah komoditas tersebut menjadi produk bernilai jual tinggi, mulai dari kopi pinang, bandrek, hingga permen.
Perjalanan KWT Melati tidak dimulai dari lahan luas. Mereka memulainya dari pekarangan sempit dengan membudidayakan jahe dalam polybag, sebuah solusi cerdas mengingat Sukakarya rawan banjir saat musim hujan. Titik balik besar terjadi pada 2021 ketika PT Pertamina Pendopo Field menghadirkan program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG) di bawah payung PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.
Sebelum adanya pendampingan, warga hanya menjual pinang ke tengkulak dengan harga Rp 4.000 per kilogram (kg), jauh di bawah harga pasar global yang menyentuh Rp 19.000 per kg. Alhasil, banyak warga lebih memilih menebang pohon pinang untuk kayu bakar saat perayaan 17 Agustus daripada mengolahnya.
Melalui program GEMILANG, para ibu di KWT Melati mendapat gemblengan teknis pertanian, pengolahan pinang, hingga diversifikasi produk. Kini, dari hamparan lahan seluas 15 hektare, kelompok ini mampu memproduksi sekitar 900 kg pinang kering dan 200 hingga 300 kg pinang muda setiap bulannya.
Keuntungan yang diraup KWT Melati langsung terasa di dapur rumah tangga para anggota. Setiap perempuan yang terlibat dalam produksi menerima upah Rp 12.500 per kg, sementara kas kelompok berputar sehat untuk pinjaman lunak modal pribadi—mulai dari biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga.
Keanggotaan kelompok pun bertambah signifikan. Dari semula hanya 12 orang, kini KWT Melati telah beranggotakan 30 perempuan tangguh. Produk racikan herbal pinang dan jahe mereka bahkan sempat melesat laris menembus berbagai daerah saat pandemi COVID-19 melanda.
Keberhasilan ini mengubah cara pandang warga terhadap kaum perempuan di Desa Sukakarya. Dari total 1.842 penduduk usia produktif, sebanyak 847 orang tercatat tidak bekerja, dan 584 orang di antaranya merupakan perempuan rentan secara sosial dan ekonomi—banyak yang berpendidikan rendah atau pernah menjadi pekerja migran.
"Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya," ujar Suhartini.
Atas dedikasinya, Suhartini diganjar apresiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai salah satu dari 20 pahlawan lokal penerima Local Heroes Inspiration Award 2024. KWT Melati juga kerap menjadi langganan pameran regional hingga menembus panggung nasional dan internasional.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa kisah sukses Suhartini adalah bukti sahih bahwa perempuan mampu menjadi motor kemajuan apabila diberikan ruang yang setara. "Perusahaan, melalui program GEMILANG di PEP Pendopo Field, akan terus berkomitmen merawat ruang-ruang pemberdayaan tersebut agar lahir inspirasi-inspirasi baru di bumi pertiwi," kata dia.
Suhartini sendiri tidak berpuas diri. Ia terus membagikan ilmunya kepada generasi muda dan kelompok tani lain di Musi Rawas agar semangat kemandirian ini menjalar lebih luas. "Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar," tegasnya.