SUMATERA SELATAN — Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.50 WIB, rupiah melemah tipis 0,01% ke posisi Rp 17.725 per dolar AS. Destry menegaskan bahwa jika hanya melihat faktor fundamental domestik dan kondisi ekonomi Amerika Serikat, kurs rupiah seharusnya bisa berada di level yang lebih baik dari saat ini.
Sentimen Global dan Pasar Jadi Biang Kerok Pelemahan
"Kalau kita lihat pergerakan dari rupiah itu sendiri, sebenarnya kalau ngelihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang," ungkapnya.
Menurut Destry, tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari dua sisi. Pertama, ketidakpastian kebijakan ekonomi global. Kedua, sentimen pasar yang terbentuk dari berbagai isu eksternal yang berkumpul secara bersamaan.
"Masalahnya ada sentimen, market sentimen itu mungkin bisa timbulnya macam-macam, termasuk global sentimen. Ini berkumpul jadi satu, sehingga ini yang menyebabkan pergerakan rupiah itu menjadi seperti sekarang ini," terangnya.
Intervensi BI dan Pekerjaan Rumah di Sektor Eksternal
Di tengah tekanan tersebut, BI disebut masih aktif melakukan intervensi di pasar keuangan, salah satunya melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Destry menilai fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia masih sangat stabil, namun ada pekerjaan rumah yang harus dibereskan.
Prioritas utama yang akan diusung jika resmi memimpin BI adalah memperkuat posisi neraca perdagangan yang saat ini mengalami defisit. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga ketahanan fundamental ekonomi nasional sekaligus menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.
"Kita punya tantangan sektor eksternal, sektor eksternal kita yaitu terkait dengan bagaimana dari neraca di balance of payment kita. Jadi menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia dan juga semua masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan, kemudian jasa," pungkasnya.