MUARA ENIM — Kepala Daops Sumatera XVI Lahat, Athur Daniel Sinaga, menyatakan penambahan personel ini diperlukan karena karakteristik lahan gambut membuat api bertahan lama di lapisan dalam tanah. Proses pemadaman di dua lokasi tersebut terkendala minimnya sumber air dan akses jalan yang sulit dilalui kendaraan taktis.
"Hari ini kami melanjutkan pemadaman karhutla hari ke-14 di dua desa meliputi Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang dan Suka Maju, Kecamatan Sungai Rotan," kata Athur Daniel Sinaga dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA dari Palembang, Rabu.
Kendala Lapangan: Api di Bawah Permukaan Gambut
Tim gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim, serta pemerintah desa harus menghadapi tantangan berat. Api yang membakar di bawah sela-sela lantai hutan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu sangat lama hingga mencapai lapisan dalam.
Selain itu, jarak tempuh menuju titik api cukup jauh dengan medan yang tidak mendukung pergerakan peralatan pemadaman. Kondisi ini menguji fisik dan strategi personel di lapangan.
Strategi Penanganan: Fokus pada Pelokalisiran Api
Meskipun menghadapi berbagai kendala, tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman dan pelokalisiran kebakaran agar api tidak meluas ke area lain. Pihak Manggala Agni kemudian menambah satu regu tim jagal karhutla untuk memperkuat penanganan di dua lokasi titik api tersebut.
"Meski menghadapi kendala, tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman dan pelokalisiran kebakaran," tegas Athur Daniel Sinaga.
Penambahan personel ini diharapkan mampu mempercepat proses penuntasan api di Desa Teluk Limau dan Suka Maju, mengingat durasi kejadian yang sudah berlangsung cukup panjang. Masyarakat di sekitar lokasi diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi meluasnya kebakaran serta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering seperti saat ini.