PALEMBANG — Kategori cuaca kering yang melanda Gelumbang Raya disebut BMKG berpotensi memicu debu berterbangan dan peningkatan titik panas (hotspot). Imbauan ini dikeluarkan menyusul tingkat kelembapan udara di Sumatera Selatan yang berada di kisaran 39 hingga 89 persen selama puncak kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyampaikan bahwa kondisi tersebut masuk dalam kategori kering dan rentan terhadap debu atau kabut asap tipis. Masyarakat pun diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan agar tidak terpapar partikel debu yang membahayakan kesehatan.
Masker dan Kacamata Wajib Dipakai Saat Beraktivitas di Luar
Jika warga terpaksa harus keluar rumah, BMKG menyarankan penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap. "Hal itu dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit seperti ISPA akibat banyak menghirup debu dan kabut asap," ujar Wandayantolis di Palembang, Selasa.
Penggunaan masker menjadi langkah utama untuk menyaring partikel debu yang masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, kacamata juga direkomendasikan untuk melindungi mata dari iritasi akibat paparan debu yang beterbangan.
Waspada Titik Panas Selama Puncak Kemarau
BMKG mengingatkan bahwa potensi peningkatan hotspot tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca yang kering akan mempercepat penyebaran api.
Peringatan dini ini menjadi perhatian serius bagi warga Gelumbang Raya yang sebagian besar beraktivitas di sektor perkebunan dan pertanian. Warga yang bekerja di lapangan diharapkan lebih disiplin dalam menggunakan APD serta memperbanyak minum air putih untuk menjaga daya tahan tubuh.
Pihak BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan kualitas udara di wilayah Sumatera Selatan. Informasi terbaru mengenai kondisi iklim akan disampaikan secara berkala melalui kanal resmi BMKG.