JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini masih dibayangi sentimen penguatan dolar AS di pasar global. Berdasarkan data yang dihimpun ANTARA, mata uang Garuda dibuka melemah tipis ke posisi Rp18.031 per dolar AS, menyusul penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.
Pelemahan sebesar 9 poin atau 0,05 persen tersebut menunjukkan laju depresiasi yang relatif tertahan, meski tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih berlanjut.
Level Kritis Psikologis Rp18.000 Kembali Diuji
Pergerakan pagi ini menempatkan rupiah kembali di atas ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS, level yang sempat dicapai pada pekan-pekan sebelumnya. Para pelaku pasar tengah mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS yang menjadi penentu utama aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang masih menunjukkan ketahanan akan menjadi katalis utama pergerakan dolar. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah lebih dalam apabila tidak diimbangi intervensi dari otoritas moneter Tanah Air.
Bagaimana Posisi Rupiah Dibandingkan Mata Uang Kawasan?
Pelemahan rupiah pagi ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung bervariasi. Tekanan eksternal yang berasal dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.
Bank Indonesia dinilai memiliki ruang untuk melakukan stabilisasi nilai tukar melalui instrumen pasar. Langkah intervensi ganda baik di pasar spot maupun Surat Berharga Negara (SBN) menjadi antisipasi utama untuk meredam gejolak yang berlebihan.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari
Para analis memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pekan ini akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
Sepanjang sesi perdagangan, rentang pergerakan rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.050 per dolar AS. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi global yang dapat memicu pergerakan di luar perkiraan.