PALEMBANG — Ketua MUI Sumatera Selatan, Prof. Aflatun, membuka Musda XI dengan pesan tegas agar lembaga keulamaan tidak berhenti pada struktur organisasi, melainkan mampu menerjemahkan hasil musyawarah menjadi program nyata. Ia mengingatkan bahwa perubahan zaman menuntut MUI hadir sebagai rujukan keagamaan yang adaptif, bukan sekadar menyampaikan pesan moral dari mimbar.
"Jangan sampai Musda hanya menghasilkan keputusan di atas kertas. Setelah Musda selesai, pekerjaan kita justru dimulai," ujarnya di sela-sela pembukaan Musda XI di Palembang, Jumat (7/8/2026).
Prof. Aflatun menyoroti derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda saat ini. Media sosial, menurutnya, memberikan banyak manfaat tetapi juga menghadirkan tantangan yang membutuhkan pendampingan serius. Karena itu, dakwah MUI ke depan tidak cukup hanya melalui majelis taklim, tetapi juga harus memanfaatkan pendidikan, media massa, dan ruang digital yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Dakwah harus terus kita kembangkan. Cara dan medianya boleh menyesuaikan perkembangan zaman, tetapi nilai dan prinsipnya tetap berpegang kepada ajaran Islam," kata Prof. Aflatun.
Musda yang berlangsung tiga hari ini tidak hanya membahas kepengurusan baru untuk lima tahun ke depan. Forum ini juga menjadi ajang evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan umat yang telah berjalan, sekaligus merumuskan langkah strategis dalam menyikapi persoalan sosial yang berkembang di Sumatera Selatan.
Menurut Prof. Aflatun, sinergi dengan pemerintah dan organisasi Islam lainnya menjadi prasyarat penting untuk menjaga suasana kehidupan beragama yang damai. Kolaborasi ini dinilai krusial agar kontribusi ulama dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan benar-benar dirasakan dampaknya.
Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, Prof. Aflatun menegaskan bahwa seluruh langkah pembinaan umat harus berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadis. Kedua sumber utama ajaran Islam itu menjadi filter bagi masyarakat agar tidak mudah terbawa pengaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
"Umat harus terus kita kawal dengan Al-Qur'an dan Hadis. Di tengah perubahan zaman dan derasnya informasi, masyarakat membutuhkan pegangan yang kuat," tegasnya.
Ia juga mengingatkan seluruh peserta Musda untuk menjaga ukhuwah selama proses musyawarah berlangsung. Perbedaan pandangan, menurutnya, adalah bagian alami dari musyawarah dan harus ditempatkan sebagai upaya mencari keputusan terbaik demi kemaslahatan umat.
"Boleh berbeda pendapat, tetapi persaudaraan harus tetap kita jaga. Semua yang kita bicarakan dalam Musda ini harus bermuara pada kepentingan umat dan kemaslahatan masyarakat," pungkas Prof. Aflatun.
Kepengurusan baru MUI Sumsel yang akan terbentuk dari Musda XI ini ditantang untuk menghadirkan lembaga yang semakin dekat dengan masyarakat, kuat dalam keilmuan, serta konsisten memberikan pembinaan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis.