Jalan Berlumpur hingga Kabut Tebal, Begini Cara BRI Jaga UMKM Gula Aren di Cianjur Selatan Tetap Tumbuh

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09:01 WIB
Mantri BRI menempuh jalan berbatu dan berlumpur untuk mendampingi penyadap gula aren di Cianjur Selatan.

SUMATERA SELATAN — Di wilayah Cianjur Selatan, melayani nasabah tidak cukup hanya dengan duduk di belakang meja kantor. Jalan berbatu, tanjakan curam, hingga kabut tebal yang membatasi jarak pandang adalah pemandangan biasa bagi para Mantri BRI yang bertugas di sana. Ketika kendaraan roda dua tak lagi mampu melaju, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus perkebunan warga.

Rutinitas berat itu telah dijalani Randy Wijaya, Mantri BRI Unit Cibinong di bawah Kantor Cabang Cianjur, selama lebih dari dua tahun. Ia bertanggung jawab mendampingi ratusan pelaku usaha mikro di wilayah binaannya, yang mayoritas berprofesi sebagai penyadap gula aren—komoditas yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di kawasan tersebut.

Bukan Sekadar Pekerjaan, tapi Amanah Mendampingi Warga

Randy mengaku pilihannya menjadi Mantri BRI bukan tanpa alasan. Ia ingin pekerjaannya memberi dampak langsung bagi masyarakat, bukan sekadar mencari penghasilan. "Sejak awal, saya memilih berkarier sebagai Mantri BRI karena saya ingin memiliki pekerjaan yang tidak hanya memberikan penghasilan yang layak, tetapi juga memberi kesempatan untuk bertemu, membantu, dan tumbuh bersama masyarakat," ujarnya.

Menurut Randy, menjadi Mantri adalah sebuah amanah untuk mendampingi pelaku usaha agar bisa naik kelas. "Saya merasa bangga ketika bisa melihat nasabah yang awalnya merintis usaha kecil, kemudian berkembang berkat pendampingan dan fasilitas yang diberikan BRI," tambahnya.

Dalam setiap kunjungan ke rumah nasabah, Randy tidak hanya menagih angsuran atau memantau kualitas pinjaman. Ia berdiskusi tentang kebutuhan usaha, mengenalkan solusi pembiayaan yang sesuai, hingga memperkenalkan layanan BRILink Agen agar transaksi keuangan warga semakin mudah.

Kopi Hangat dan Obrolan di Beranda Rumah

Kedekatan yang terbangun antara Randy dan nasabahnya tidak terjadi dalam ruang formal. Tak jarang, obrolan bisnis justru berlangsung santai di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat buatan sang nasabah. Dari percakapan sederhana itulah Randy memahami betul kondisi usaha, tantangan panen, hingga kebutuhan modal yang diperlukan para penyadap gula aren.

Namun, membangun hubungan sedekat itu membutuhkan pengorbanan. Perubahan cuaca yang tiba-tiba menjadi tantangan terbesar karena mampu mengacaukan jadwal kunjungan yang sudah disusun rapi. Kondisi jalan yang rusak juga berisiko menyebabkan kecelakaan bagi para Mantri yang bertugas.

"Faktor cuaca menjadi tantangan utama karena bisa mengubah rencana yang sudah dijadwalkan. Belum lagi kondisi jalan yang rusak dan berisiko menyebabkan kecelakaan. Karena itu, saya selalu menyiapkan perlengkapan khusus untuk menghadapi berbagai kondisi agar tugas dan tanggung jawab kepada nasabah tetap dapat dijalankan," ungkap Randy.

Dedikasi Mantri Jadi Kunci Inklusi Keuangan BRI

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa kisah Randy adalah cerminan dedikasi seluruh Mantri BRI di Indonesia. Menurutnya, kehadiran mereka di lapangan bukan sekadar menjual produk, melainkan membangun ekosistem pendampingan yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

"Peran Mantri tidak hanya menghadirkan akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga membangun hubungan yang erat dengan para pelaku usaha melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan," kata Akhmad.

Ia menambahkan, kedekatan ini memungkinkan BRI memahami kebutuhan nasabah secara lebih spesifik. "Solusi yang diberikan dapat disesuaikan dengan karakteristik usaha dan potensi di setiap daerah. Pendekatan ini memperkuat peran BRI dalam mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus memperluas inklusi keuangan," pungkasnya.

Dengan model pendampingan langsung seperti yang dilakukan Randy, BRI memastikan layanan keuangan tidak hanya dinikmati masyarakat perkotaan, tetapi juga menjangkau pelosok negeri—termasuk mereka yang harus ditempuh dengan berjalan kaki di tengah kabut Cianjur Selatan.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: bogordaily.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top