Pencarian

Habitat Gajah di Bentang Seblat Tinggal 50 Ekor, Koalisi Desak 80 Ribu Hektare Ditetapkan Jadi Suaka Margasatwa

Selasa, 18 Agustus 2026 • 08:54:31 WIB
Habitat Gajah di Bentang Seblat Tinggal 50 Ekor, Koalisi Desak 80 Ribu Hektare Ditetapkan Jadi Suaka Margasatwa
Delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah Seblat berpartisipasi dalam aksi Elephant Camp 2026 di Bengkulu.

SUMATERA SELATAN — Koalisi Bentang Seblat bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu menggelar aksi bertajuk Elephant Camp 2026 selama tiga hari, hingga Senin (17/8). Selain memperingati Hari Gajah Sedunia, acara ini sekaligus merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan membentuk formasi bersama delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat. Formasi tersebut dimaksudkan sebagai pesan simbolis bahwa gajah adalah milik bersama dan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat untuk melestarikannya.

Luas Lahan Sawit Melebihi Separuh Kawasan Inti

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengungkapkan bahwa analisis koalisi menunjukkan kondisi kritis di kawasan tersebut. Dari total 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, sedikitnya 30.017 hektare telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, sementara pembalakan liar masih terus terjadi di wilayah lainnya.

"Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal," ujar Ali dalam keterangannya, Senin (17/8).

Dua kantong populasi gajah yang tersisa kini hanya terkonsentrasi di Air Rami dan Air Teramang, Kabupaten Mukomuko. Fragmentasi habitat disebut sebagai penyebab utama terputusnya jalur jelajah gajah, diperparah dengan operasional perkebunan kelapa sawit skala besar milik Anglo Eastern Plantation (AEP) yang beroperasi di bawah bendera PT Mitra Puding Mas dan PT Alno Agro Utama.

Kasus Peracunan Terbaru dan Temuan Laboratorium IPB

Situasi keamanan bagi kawanan gajah kian memburuk setelah ditemukannya induk gajah berusia 25 tahun dan anaknya yang berusia 2 tahun mati di hutan pada 30 April 2026. Hasil uji laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menunjukkan adanya kandungan florida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua satwa tersebut.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa peracunan menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi, selain alih fungsi hutan menjadi kebun sawit. Koalisi menilai lemahnya sinergi antar pemangku kepentingan di Bentang Seblat menjadi akar persoalan yang membuat kawasan tersebut tidak aman bagi kelestarian gajah.

Urgensi Penetapan Suaka Margasatwa

Koalisi Bentang Seblat mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera menetapkan 80 ribu hektare lebih kawasan inti sebagai suaka margasatwa. Status perlindungan ini dinilai sebagai langkah hukum terkuat untuk menghentikan laju deforestasi dan memberikan jaminan keamanan bagi habitat gajah dari ekspansi perkebunan.

Ali menegaskan bahwa aksi #GajahKita sengaja diusung sebagai antitesis dari pandangan publik yang selama ini menganggap gajah sebagai hama. "Gajah adalah milik kita dan menjadi tanggungjawab bersama untuk melestarikannya," tegasnya.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: betv.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks