Soal performa, Xpeng mematok jarak tempuh 620 km untuk varian standar dan 715 km untuk varian teratas. Angka ini berdasarkan standar NEDC — penting dipahami bahwa standar ini cenderung optimistis dibanding real-world driving. Dalam pemakaian harian dengan AC menyala dan gaya berkendara normal, angka aktual biasanya lebih rendah 15-20 persen.
Meski begitu, kapasitas baterai besar di kelas ini tetap memberi keuntungan nyata: pengguna bisa memakai mobil untuk perjalanan antar kota tanpa cemas mencari charging station. Ini nilai jual utama yang tidak dimiliki MPV hybrid atau konvensional di segmen yang sama.
Dengan harga di atas Rp 1,1 miliar, Xpeng X9 masuk ke zona yang selama ini didominasi Toyota Alphard dan kini juga Denza D9. Perbedaannya fundamental: Xpeng menawarkan platform listrik murni dengan teknologi ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) yang agresif, sementara Alphard masih mengandalkan mesin konvensional dan kenyamanan ala limusin.
Denza D9 sendiri juga hadir sebagai MPV premium dengan opsi listrik dan hybrid. Persaingan di segmen ini kini bukan lagi soal ruang kabin saja, tapi juga soal ekosistem pengisian daya, kualitas material, dan ketenangan berkendara. Xpeng X9 punya keunggulan di sisi teknologi dan jarak tempuh, tapi tantangannya ada di jaringan layanan purna jual yang masih baru dibangun di Indonesia.
Xpeng X9 adalah produk yang sangat menjanjikan di atas kertas — ruang kabin lega, fitur lengkap, dan jarak tempuh yang mengesankan. Untuk pejabat atau eksekutif yang ingin tampil beda sekaligus mendukung transisi energi, mobil ini pilihan yang masuk akal.
Tapi untuk konsumen yang mengutamakan kepraktisan jangka panjang, jaringan servis luas, dan nilai jual kembali, Alphard masih menjadi pilihan yang lebih aman. Xpeng X9 cocok untuk early adopter yang paham teknologi dan siap menerima risiko ekosistem yang belum matang. Sebaliknya, kurang cocok untuk mereka yang menginginkan mobil dinas tanpa kompromi soal after-sales.