Suntikan modal sebesar 17 juta dolar AS berhasil diamankan OpenTrade untuk memperluas akses perusahaan finansial ke produk imbal hasil berbasis aset dunia nyata. Pendanaan yang dipimpin Mercury Fund dan Notion Capital ini menandai langkah strategis perusahaan dalam mengintegrasikan likuiditas kripto dengan instrumen keuangan konvensional di pasar global.
LONDON — Platform infrastruktur stablecoin OpenTrade resmi menutup putaran pendanaan senilai 17 juta dolar AS pada Rabu (6/5/2026). Investasi ini dipimpin oleh Mercury Fund dan Notion Capital, dengan partisipasi dari sejumlah pemodal ventura besar seperti a16z Crypto, AlbionVC, dan CMCC Global.
Tambahan modal ini meningkatkan total pendanaan yang telah dikumpulkan OpenTrade menjadi lebih dari 30 juta dolar AS. Langkah ini diambil saat pasar stablecoin global terus menunjukkan pertumbuhan masif dengan total pasokan yang kini melampaui angka 310 miliar dolar AS.
Fokus Ekspansi Infrastruktur dan Manajemen Aset
Manajemen OpenTrade berencana mengalokasikan dana tersebut untuk memperkuat infrastruktur platform, baik yang bersifat permissioned maupun permissionless. Perusahaan yang berbasis di London ini juga tengah bersiap memperbesar tim manajemen aset dan perdagangan mereka guna mendukung volume transaksi yang terus meningkat.
Layanan yang ditawarkan OpenTrade memungkinkan perusahaan fintech, bursa kripto, hingga dompet digital untuk menawarkan produk imbal hasil (yield) stablecoin. Produk ini didukung oleh aset dunia nyata atau real-world assets (RWA) guna memberikan diversifikasi bagi klien institusional.
"OpenTrade has made it simple for fintechs and neobanks to plug institutional-grade stablecoin yield into their products," kata David Sutter, CEO dan co-founder OpenTrade. Ia menambahkan bahwa platform ini kini merambah layanan bagi platform non-kustodian dan penerbit aset yang mencari cara aman untuk menghubungkan stablecoin ke strategi imbal hasil.
Pertumbuhan Transaksi dan Risiko Token Sintetis
Sepanjang tahun lalu, OpenTrade mencatatkan volume transaksi lebih dari 250 juta dolar AS. Hingga Mei 2026, perusahaan melaporkan total nilai aset yang terkunci atau total value locked (TVL) telah mencapai angka 200 juta dolar AS.
Di tengah tren tokenisasi aset ini, para eksekutif dari ICE, OKX, dan Securitize memberikan peringatan terkait risiko token saham sintetis lepas pantai. Token jenis ini dianggap berisiko bagi pedagang ritel karena sering kali tidak mewakili ekuitas yang mendasari dan mengeksploitasi arbitrase regulasi.
Sebagai respons terhadap risiko pasar, bursa besar seperti NYSE yang dimiliki oleh ICE mulai membangun platform teregulasi untuk ekuitas Amerika Serikat yang ditokenisasi. Langkah ini bertujuan untuk memberikan standar keamanan yang lebih tinggi dibandingkan produk sintetis yang beredar tanpa persetujuan resmi dari pemilik perusahaan asli.