Pencarian

Peneliti Microsoft Buktikan Kambing di Game Age of Empires II Bisa Jadi 'Otak' AI, Sindir Kesadaran Chatbot

Minggu, 21 Juni 2026 • 23:07:31 WIB
Peneliti Microsoft Buktikan Kambing di Game Age of Empires II Bisa Jadi 'Otak' AI, Sindir Kesadaran Chatbot
Peneliti Microsoft menggunakan kambing dalam Age of Empires II untuk membangun gerbang logika dasar AI.

Adrian de Wynter, peneliti AI Microsoft yang berbasis di University of York, menerbitkan makalah berjudul If LLMs have human-like attributes, then so does Age of Empires II. Dalam proyek ini, ia menggunakan scenario editor gim legendaris buatan Ensemble Studios itu untuk merakit gerbang logika NAND dan perceptron 1-bit, dengan kambing-kambing dalam gim berperan sebagai bit.

Kambing sebagai 'Neuron' dan Kritik terhadap Antropomorfisme AI

De Wynter tidak benar-benar membangun large language model (LLM) versi Age of Empires. Ia hanya membuat perceptron paling dasar—blok bangunan paling sederhana dari jaringan saraf modern—yang berfungsi di dalam lingkungan gim. Argumennya lugas: jika kita menganggap struktur sederhana dari kambing, rumput, dan jembatan ini tidak mungkin memiliki kesadaran, maka klaim serupa terhadap chatbot komersial yang jauh lebih kompleks juga seharusnya tidak masuk akal.

"Dalam kasus apa pun, aktivitas mesin tidak boleh ditafsirkan dalam istilah proses kognitif yang lebih tinggi jika dapat ditafsirkan secara wajar dalam istilah proses yang lebih rendah dalam skala evolusi dan perkembangan kognitif," tulis De Wynter dalam makalahnya, mengutip prinsip lama dalam filsafat kecerdasan buatan.

Bias Konfirmasi dan Bahaya 'Interaksi Seperti Manusia'

Penelitian De Wynter menyoroti fenomena yang disebut ELIZA effect—kecenderungan manusia untuk memberi sifat manusiawi pada program komputer, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Efek ini sudah ada sejak tahun 1960-an, jauh sebelum era AI generatif. Namun, antarmuka chatbot modern yang dirancang untuk meniru percakapan alami justru memperparah bias ini.

Dari 337 makalah akademis yang ia ulas dalam dua tahun terakhir, De Wynter menemukan bahwa 57% di antaranya secara implisit mengasumsikan bahwa LLM bisa memiliki sifat seperti manusia. Asumsi dasar ini, menurutnya, berpotensi mewarnai metodologi riset, pengujian, dan kesimpulan yang ditarik para ilmuwan.

"Orang yang mencari sifat manusiawi dalam teknologi seperti chatbot cenderung akan menemukannya," ujar De Wynter kepada 404 Media. Ia menekankan bahwa ini adalah bentuk confirmation bias yang sistematis di kalangan akademisi dan industri.

Perusahaan AI Justru Diuntungkan oleh Persepsi Ini

De Wynter juga menyoroti bahwa perusahaan-perusahaan di balik ledakan AI tidak memiliki insentif untuk mengoreksi persepsi publik. Sebaliknya, mereka justru diuntungkan. Eksekutif puncak perusahaan AI sering kali secara publik membuka kemungkinan bahwa sistem mereka bisa menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Strategi ini, menurut De Wynter, didukung oleh riset yang menunjukkan bahwa orang cenderung membeli lebih banyak produk ketika mereka bisa berempati dengannya—termasuk berlangganan layanan chatbot.

Chatbot seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini dilatih dengan bahasa alami dan menggunakan teknik untuk meniru bentuk serta nada percakapan manusia. Semakin halus ilusi interaksi ini, semakin besar kemungkinan pengguna memproyeksikan kepribadian, emosi, atau bahkan kesadaran ke dalamnya—sebuah ilusi yang, seperti dibuktikan oleh kambing-kambing Age of Empires II, tidak memerlukan kecerdasan sama sekali.

Bagikan
Sumber: tomshardware.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks