LAHAT — Kelompok Tani Beringin Jaya yang beranggotakan 10 orang di Desa Beringin Jaya, Kabupaten Lahat, baru saja menuntaskan panen perdana budidaya ikan lele. Total produksi mencapai 1,6 ton ikan yang kini mulai didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga dan pasokan pedagang pasar lokal.
Budidaya ini merupakan bagian dari inisiatif ketahanan pangan yang dikembangkan bersama PT Sawit Mas Sejahtera (PT SMS), anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food. Program tersebut dirancang untuk menciptakan kemandirian ekonomi desa melalui sektor perikanan air tawar yang memiliki perputaran modal relatif cepat.
Bagaimana Hasil Panen Ini Menggerakkan Ekonomi Desa?
Capaian 1,6 ton pada panen pertama menjadi indikator keberhasilan teknis budidaya yang diterapkan para petani sejak awal 2025. Hasil produksi tidak hanya terserap oleh pasar di tingkat desa, tetapi juga membantu menjaga stabilitas pasokan ikan lele bagi para pedagang di wilayah Kabupaten Lahat.
Pemilihan komoditas lele didasarkan pada efisiensi waktu produksi dan kemudahan perawatan. Ikan jenis ini memiliki masa pertumbuhan yang singkat, yakni sekitar dua hingga tiga bulan, sehingga kelompok tani dapat memperoleh omzet dalam waktu yang terukur untuk keberlanjutan operasional kolam.
Pemerintah Kabupaten Lahat melalui Dinas Perikanan memberikan apresiasi khusus berupa piagam penghargaan kepada PT Sawit Mas Sejahtera. Perusahaan dinilai berkontribusi nyata dalam mempercepat pencapaian program Swasembada Ikan yang telah dicanangkan Bupati Lahat sejak tahun 2019 silam.
Siklus Budidaya Berlanjut Tanpa Jeda
Pasca panen perdana, para petani langsung melakukan penebaran kembali bibit ikan lele di kolam-kolam yang telah dikosongkan. Langkah ini diambil untuk meminimalkan waktu jeda produksi, sehingga siklus panen berikutnya dapat kembali dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Dukungan perusahaan dalam program ini mencakup pendampingan teknis dan penyediaan sarana produksi bagi Kelompok Tani Beringin Jaya. Selain mengejar target ekonomi, fokus utama kolaborasi ini adalah memastikan ketersediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat di sekitar area operasional perusahaan.
Integrasi antara program CSR perusahaan dan prioritas pembangunan daerah diharapkan mampu memperkuat gizi masyarakat sekaligus menekan angka ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Model budidaya ini diproyeksikan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Sumatera Selatan dalam mengelola potensi perikanan air tawar secara mandiri.